WAYUH WAYAH

Waktu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, namun demikian kita banyak yang tidak menyadarinya. Waktu terus berputar, berjalan dan tidak akan pernah terulang kembali. Oleh sebab itu manusia diharapkan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Membagi waktu dengan baik dan berimbang merupakan suatu hal yang mutlak dilakukan oleh manusia. Seperti para pendahulu kita yang bisa mengatur waktu dengan baik, dimana wayah (waktu) nya bekerja, wayahnya beribadah serta wayahnya bersosialisasi dengan lingkungan bisa dilakukan dengan seimbang dan proporsional. Namun apa yang terjadi di era milenial seperti sekarang ini? Sebuah kontradiksi acap terjadi, dimana manusia seakan terkurung dan terperangkap dalam kenyamanan ruang waktu yang mereka ciptakan sendiri.

Di dunia yang serba modern ini, waktu seakan berjalan begitu cepat. Sehingga manusia menjadi lupa akan siapa dirinya dalam struktur kehidupan. Terlebih kehidupan sosial zaman now yang serba gemerlap, membuat manusia ingin menunjukkan eksistensi diri yang mengakibatkan hilangnya keseimbangan.
Kemajuan zaman dengan segala macam teknologi yang berkembang telah membuat manusia terlena.

Disebutkan dalam sebuah hadist nabi bahwa manusia banyak yang tertipu oleh dua kenikmatan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Manusia cenderung diperbudak nafsu kenikmatan yang diberikan untuk menguasai dunia, segala hal yang bersifat materi keduniawian dikejar-kejar, semua-semuanya dikerjakan, diburu sampai wayuh wayah (membagi-bagi waktu). Waktu seolah tidak akan pernah cukup. “Waktu adalah uang” menjadi dogma manusia modern, yang dengannya sangat jelas akan keserakahan serta ketamakan manusia atas dunia.

Waktu adalah modal manusia skaligus salah satu nikmat yang agung dari Allâh SWT kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan dan berimbang antara Hablum minallah dan Hablum minannas. Salah satu surat Al-Quran (Al-‘Ashr ayat 1-3) menunjukkan akan pentingnya masa atau waktu yang didalamnya terdapat keajaiban-keajaiban. Ada waktunya terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan.
Sesungguhnya waktu merupakan anugerah Allah SWT, tidak ada cela padanya, manusialah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya.

Dunia adalah sawah ladang tempat berkebun bagi manusia. Berkebun kebaikan kepada semua mahluk ciptaan-Nya. Sudah seyogyanya manusia memanfaatkan waktu yang diberikan dengan semaksimal dan seoptimal mungkin untuk mengerjakan kebenaran dan amal shalih. Seperti ucapan Imam Syafi’i Rahimullah, “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Mari duduk melingkar dalam Majelis Ilmu – Sinau dan Bergembira Bersama Maiyah Dusun Ambengan, di Rumah Hati Lampung Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, Sabtu, 16 Februari 2019, jam 20.00 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *