Tolak Balak

BALAK dalam vokabuler bahasa Lampung, berarti besar. Jika balak/bala, yang biasanya bersanding dengan kata “tolak” berarti musibah, tolak bala adalah upaya untuk mencegah dan agar terhindar dari musibah. Namun demikian, diambil dari defenisi berbasis ayat-ayat Al Quran, bala memiliki makna, ujian. Yaitu, cobaan dari Allah untuk meningkatkan level keimanan seseorang.

Landasan utama yang sering dipakai adalah Al Quran surat Al Ankabut ayat 2 yang artinya; “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami  telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?”

Dipilihnya tema “tolak balak” dalam majelis Maiyah Dusun Ambengan pada edisi ke-28 ini, bukan untuk menolak ujian guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, melainkan sebagai refleksi atas berbagai permenungan dan nasehat-nasehat dalam Daur 286, terutama pada proses dimana kita semua seolah sedang terombang-ambing.

“Terombang-ambing dalam arus besar pertentangan antara kebenaran yang dipelajarinya selama ini dengan keadaan di sekelilingnya. Secara bertahap ia bersama teman- temannya belajar memahami zaman, melalui berbagai metode dan terminologi yang berasal dari berbagai macam sumber. Dari wacana-wacana tradisional hingga yang paling  modern dan advanced.”—www.caknun.com—- 

Tolak balak adalah term untuk menggali lebih intesif tentang hakekat dari semua persoalan yang dianggap musibah, ujian, bahkan sebagai medan refleksi untuk mencari dimana posisi kita. Apakah yang sedang membuat kerusakan di muka bumi namun merasa membuat perbaikan? Atau orang yang berusaha membuat peringatan dan menebar kebajikan? Atawa justru yang sedang membuat kerusakan namun tidak sadar?

Semua manusia, pada akhirnya pasti pernah mengalami kesulitan, berbagai ujian tentang kekurangan, kematian, sampai pada kejadian di luar diri seperti bencana alam dan sebagainya. Posisi kita berada pada perusak atau yang terus membuat perbaikan, pada akhirnya kita sebagai manusia harus menentukan pilihan. Mengambil sikap. Dalam Al Quran surat Al Araf ayat 155, dikisahkan tentang Nabi Musa AS yang memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk berdoa meminta ampun. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah bala dari Engkau, Engkau sesatkan dengan bala itu siapa yang Engkau hendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya.”

Bala di sini berarti bisa sebagai titik awal memulai keimanan, dapat juga memerosokkan diri pada kesesatan. Memperbincangkan Tolak Balak di Majelis Maiyah Dusun Ambengan pada Sabtu, 16 Desember 2017 malam, langsung dipimpin KH. Muzamil, pimpinan Ponpes Rohmatul Umam, Yogyakarta. Mari melingkar, ngaji dan bergembira bersama di Rumah Hati Lampung, dimulai jam 19.30 WIB. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *