Tafsir Suro dari Desa Ambengan

PUNCAK peringatan malam satu Suro, ikut dirayakan dalam majelis Maiyah Dusun Ambengan pada Sabtu, 23 September 2017 malam. Bukan sekadar bentuk upaya bersih desa saja, melainkan, usaha menghimpun berbagai khasanah dari kearifan dan kebudayaan yang sudah tumbuh berkembang di perdesaan. Tanpa maksud meniadakan Ambengan di perempatan desa, majelis ini bahkan membuat konstruksi lebih dari Ambengan yang selama ini dikenal warga, pengajian sekaligus Jamasan dan Jamusan.

Manyantap keberkahan di majelis Maiyah Dusun Ambengan.

Berbagai rangkaian aktivitas yang menjadi penanda perayaan atas syukur dan berkah sudah hidup di desa, Maiyah Dusun Ambengan menampilkan segala kunci apa yang sering diuri-uri masyarakat. Meski tidak secara utuh sebab ada batasan-batasan waktu yang mesti ditaati, Ambengan malam itu berusaha merangkainya dalam harmoni yang saling melengkapi. Ada Jaranan, tafsir Suro oleh kami tua kampung, membedah relasi Muharam sebagai bulan penuh berkah di luar Ramadan, sampai kajian yang mengupas apa itu Jamasan, wayangan, dan Jamusan di Rumah Hati Lampung.

Segala bentuk aktivitas warga, sejak kreasi anak-anak Dusun Keramat Bawah, Desa Margototo Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur mendeklarasikan lahirnya kembali Paguyuban Jaranan, diberi ruang untuk unjuk kebolehan. Termasuk secara khusus, mengundang sesepuh desa Mbah Slamet dan sekaligus hadirnya Mbah Dalang Gondo. Menjadikan kajian edisi ke-25 semacam malam refleksi untuk mencari esensi dari Suro, menabalkan diri bahwa hadirnya Maiyah Dusun Ambengan adalah upaya serius mencari titik pijakan masa lalu agar lebih presisi menempuh jalan lurus di masa depan.

Seperti tradisi Maiyah Ambengan yang dimulai dengan tadarus Al Quran dan tahlil, atraksi dan hiburan khas perdesaan, menyantap menu Ambengan yang menguatkan sebelum makan ada doa, ikrar dan keindahan berjamaah dengan alas daun pisang, sampai memberi laporan-laporan dari kerja-kerja sosial kemasyarakatan Jamaah. Ada dari Monitor Artis (Komunitas Pendonor Darah Gratis) yang baru dapat penghargaan dari PMI Kota Metro, SSB Astama yang mulai lebih serius sebagai sekolah sepak bola dengan berbagai torehan prestasi yang membanggakan pasca Festival Sepak Bola U-12 dan U-13 yang baru saja diadakan. Sampai kemudian puncaknya, Cak Sul sapaan akrab Syamsul Arifien memimpin jalannya Maiyah bersama Mbah Gondo, Mbah Slamet serta kru musik Jamus Kalimasada.

Hiburan dan Menguatkan Desa

Majelis Maiyah Dusun Ambengan, secara sekilas menjadi arena sekaligus ruang yang menguatkan karakter dan nilai-nilai luhur di perdesaan. Di sisi lain, menjadi tempat masyarakat mendapat hiburan yang langsung menyentuh kalbu. Sebab, di sana ada anak-anak yang secara piawai menampilkan atraksi dengan berbagai keterbatasannya. Kreatifitas berhibur, terompet yang menjadi musik khas jaranan, disiasati dengan suara mulut yang bahkan jauh lebih “telolet” dibanding tiupan para pinesepuh yang sudah mahir mengiring Reog atau Jaranan.

Terlihat, Alim (11 tahun) yang juga putra Pak RT, Yahman, bersama Akil (vokalis Jamus Kalimasada) menjadi hiburan tersendiri ketika menampilkan kepiawaian bermain akapela. Terutama Alim yang kemampuan menirukan suara terompet jaranan, secara intonasi dan ketukan cukup piawai. Memancing derai tawa jamaah yang seketika memberi tepuk tangan.

Memberi ruang kreatifitas seni budaya anak desa.

Hadirnya anak-anak yang dilatih jaranan oleh Mbah Musirin, salah satu seniman karawitan dari Dusun Keramat Bawah itu, menjadi katarsis tersendiri bagia Maiyah Dusun Ambengan. Apalagi, mereka bukan hanya berlatih seni budaya, melainkan juga rutin belajar “ngaji” Al Quran.

Warga yang biasanya tidak sempat berkunjung, malam itu terlihat hadir dan ikut menyaksikan, banyak yang berdiri sampai pintu-pintu luar, dilanjutkan dengan penampilan group Musik Kreatif dari Raman Utara. Kelompok musik yang terdiri dari pelajar SMA itu membawakan lagu daerah Lampung Timur yang berjudul “Bumei Tuah Bepadan” dan beberapa lagu gubahan yang cukup atraktif.

Secara alami, warga desa khususnya Ibu-ibu dan anak-anak, undur diri, menyisakan jamaah Ambengan yang mulai duduk rapat mendekati panggung, dimana Cak Sul, Mbah Slamet dan Mbah Gondo duduk bersama awak Jamus Kalimasada.

Mbah Gondo memulai dengan kidung yang disebutnya, lirik dalam tembang itu diciptakan Kanjeng Sunan Kalijaga. Kemudian secara simultan menjelaskan, makna Suro dan kegembiraannya sebagai orang tua melihat masih ada di desa warga yang umumnya anak-anak muda, mau aktif terlibat menguri-uri budaya. “Ini sudah mulai sampai masa, dimana tanda-tanda alam kian menemukan titik kebenaran wasiyat leluhur,” kata Mbah Gondo.

Kemudian, beliau menjelaskan, “kali ilang kedunge” dan “pasar ilang ngenge“. Penjelasan yang bahkan mengambil berbagai tafsir dan pendekatan psiko-sosial masyarakat desa ketika memasuki zaman yang sudah hampir “akhir”.

Menurut Mbah Gondo yang pernah tinggal di Desa Margototo, sebelum pindah ke Bandarjaya pada 1976, dulu kalau akan ke Kota Metro, warga Metro Kibang naik sepeda dan menyeberang sungai perbatasan itu naik perahu “getek”. Sekarang, sungai besar dan sering banjir bandang yang dikenal masih ada buaya putih (bajul putih) itu sudah jadi tempat pembuangan sampah dan kedung atau lokasi terdalam dari sungai Waysekampung itu juga, hanya tinggal selutut orang dewasa. Semakin dangkal.

Sekarang, kita sudah mengalami, kali ilang kedunge. Termasuk pasar yang beringsik dan suaranya sangat bising seperti suara lebah dari kejauhan, sudah tak terdengar lagi karena mulai banyak waralaba dan pasar hanya ada pertemuan singkat antara tengkulak dengan penjual tanpa suara tawar menawar lagi.

Cak Sul yang memantik alur bertema Suro(so)an itu memancing dengan kisah-kisah semasa kecil di desa, termasuk ada kejutan, dimana baru ketemu malam itu, ternyata Mbah Gondo adalah karib almarhum Ayahnya. Hal itu bermula dari pertanyaan Mbah Gondo, dimana tinggal masa kecilnya sebelum mukim di Desa Margototo. Setelah cerita di Gisting, Mbah Gondo cerita sering dalang di pedalaman Kabupaten Tanggamus itu, ditanggap Kepala Desa yang  juga karib kerabat jauhnya. “Ya itu ayah saya,” kata Cak Sul yang direspon Mbah Gondo dengan tak kalah terkejutnya.

Beliau kemudian menyampaikan anggapan yang terjadi di tengah masyarakat tentang bulan sial. Stereotipe Suro itu bulan sial, dijelaskan Cak Sul, bahwa tak ada bulan sial. Justru yang mestinya ada adalah Suro sebagai metode berlatih (riyadah) agar terhindar dari kesialan hidup. “Kita tidak boleh mencela waktu karena tidak ada waktu yang tidak baik,” katanya.

Orang-orang Dugdeng

Daya kejut majelis Ambengan, terus membuat warga punya kenangan dan “pencapaian” tersendiri. Diakui salah satu warga yang bahkan sangat erat menyalami Mbah Gondo seraya berkisah. “Saya masih ingat semua ucapan dan alur lakon wayang yang dimainkan pada tahun 80an,” ucapnya.

Termasuk beberapa warga yang mengaku pernah berhubungan dengan perguruan silat yang didirikan Mbah Gondo. Malam itu mendapat konfirmasi langsung dari yang bersangkutan.

“Haha…apa ya kuat? hehe…potonganmu,” ucap beliau ketika beberapa anak muda menanyakan akan meminta ilmu dari Mbah Gondo.

Ilmu kebal, kedigdayaan, kanuragan dan semacamnya, perlu lelakon yang sangat berat. Tapi lebih dari semua itu, jelas Mbah Gondo, ilmu paling tinggi itu ada pada, “sakti tanpa aji, menang tanpa ngasorake.” Diceritakan, dirinya pernah ditusuk pedang dari belakang, tidak mempan bukan karena sakti, melainkan hanya karena ketika itu sering mengamalkan ayat Al Quran yang baru saja dibaca Cak Sul sebagai pembuka kajian, tepatnya Surat At Taubah ayat 128-129.

Kalau ilmu kebal itu, lanjut Mbah Gondo, ada pantangan yang tidak boleh sedikit pun untuk kesombongan.

Mbah Slamet melengkapi penjelasan-penjelasan Mbah Gondo tentang apa itu kedigdayaan dan era dimana nyaris semua orang desa, butuh. Kemuliaan manusia masa lalu, didapat hanya ketika seseorang itu dugdeng. Sakti mandraguna. Jago bertarung dan mampu mengalahkan liyan. Meski begitu, Mbah Slamet menuturkan, sekarang ini kemajuan tekhnologi terutama ponsel, jauh melampaui kesaktian orang-orang masa lalu. “Lha dulu itu, kalau berhubungan dengan saudara yang ada di Jawa, kita cukup semedi dan membangun percakapan batin, sekarang tinggal telepon.”

Jamasan dan Jamusan

Secara singkat, interaksi antara Cak Sul, Mbah Gondo dan Mbah Slamet bersama jamaah memunculkan pertanyaan. Apa bedanya jamasan dengan jamusan.

Dimana Jamus sendiri, bagi orang yang asing dalam dunia perwayangan lebih familiar maknanya sebagai “kerbau” dari bahasa Arab. Namun demikian, secara mudah, Mbah Gondo menjawab. “Nah, pas kalau saya yang jawab. Saya sudah ngelontok soal Jamasan. Artinya mandi, sama kalau waktu subuh, kita mandi junub, itu makna jamasan.”

Kenapa mesti malam satu Suro, dan keterkaitan dengan Jamus Kalimasada, bahkan lebih rinci, baik secara etimologi maupun terminologi diungkap Mbah Gondo. Termasuk, sejarah Sahadatain sampai jadi Sekaten, dua kalimat sahadat yang disebut dalam pewayangan sebagai jimat Kalimasada.

Lebih lanjut, Mbah Gondo bahkan mengapresiasi nama Jamus Kalimada yang dipakai sebagai group musik gamelan. “Ini menjadi bagian dari jimat, kebanggaan masyarakat,” tuturnya dengan bahasa Jawa.

Jamaah bersalam-salaman sebagai penutup majelis.

Semakin larut, majelis itu semakin khidmat meski tak bisa menutupi wajah-wajah letih dari jamaah. Tepat pukul 01.10 dini hari, majelis itu dipungkasi Cak Sul menjelaskan pentingnya memperbanyak amalan puasa pada 10 Muharam serta lebih intensif berlatih (riyadah). “Penting juga memperbanyak menebar kebaikan seperti menyantuni anak yatim, agar mendatangkan kemuliaan dan kelapangan hidup,” ujar Cak Sul. Dilanjut dengan doa dan iringan gamelan Jamus Kalimasada yang membawakan midle Kiai Kanjeng berjudul “Duh Gusti”.

Jamaah bersalam-salaman, dilanjut dengan menikmati nasi goreng. Beberapa jamaah yang mengaku masih kenyang yang sudah dilaksanakan bersama-sama beralas daun pisang pada pertengahan acara, langsung pamit pulang. Beberapa penggiat, secara sukarela langsung mengumpulkan gelas-gelas sisa teh dan kopi jamaah kemudian langsung mencuci di sudut belakang panggung. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *