Suro(so)an

MASUK pelataran rumah, tanah dan beberapa ruang kosong yang bisa dijadikan untuk menjemur gabah. Menyimpan tumpukan kayu bakar. Dan rerimbun bebungaan. Ada pohon mangga, bunga kenanga, kembng kantil, serumpun daun pandan. Termasuk beberap pot bunga gelombang cinta. Di ujung pekarangan rumah, ada tumpukan batu bata merah.

Rumah ini termasuk rumah gedong. Lantainya dari marmer. Temboknya sudah berusia puluhan tahun. Pernah dianggap rumah mewah. Terlebih sudah punya kursi sudut dari busa empuk. Di pinggiran rumahnya, ada bonang dan beberapa sisa gamelan dari kuningan teronggok. Penghuninya, lelaki sepuh yang berkisah seputar makna Suro dalam ritme kehidupan manusia.

Su, itu artinya baik. Roso itu artinya perasaan yang dimiliki seseorang. Suroso adalah khusnudzon. Manusia itu pasti hidup penuh prasangka. Sementara Tuhan hadir atas prasangka manusia. Termasuk penuh prasangka merupakan fitrah kemanusiaan kita. Akan tetapi, jika ditarik dalam perspektif Su’. Pada kata “suudzon” misalnya. Su bermakna buruk. Di sinilah pentingnya menyeimbangkan rasa. Ajaran agama jika tak diresapi dengan olah batin yang penuh ketaatan, justru bisa menghadirkan keburukan. Kesalahan penafsiran yang kemudian justru membuat seseorang jumawa untuk merasa benar sendiri. Meniadakan kebenaran liyan.

Kenapa setiap rumah di perdesaan yang di dalamnya ada orang tua, pasti punya pagar meski dari tanaman rambat? Mengapa tidak boleh tidur sore-sore ketika malam 1 Suro?

Pemasangan poster Maiyah Dusun Ambengan edisi ke-25 di perempatan desa. Bertema Suro(so)an.

Suro(so)an adalah upaya mendedah kekayaan batin dan keilmuan para kami tua. Tentang lelaku sekaligus pengalaman menjalani kehidupan sejak berbincang malam pakai cahaya ublik sampai dengan neon listrik. Dari hiburan radio sampai panjer suara televisi. Mengobrol soal masa lalu dan masa depan dengan tetap memainkan ponsel dan beberapa kali mesti menerima panggilan masuk.

Zaman sudah jauh berubah. Akan tetapi prilaku manusia masih tetap, hanya ada dua. Yaitu berbuat baik atau berprilaku buruk. Yang baik disebut orang saleh. Yang buruk dianggap orang jahat. Baik dan buruk adalah batas yang mesti direnungkan setiap saat. Minimal setahun sekali. Perenungan paling sunyata, ada ketika sunyi malam hari. Maka melek sampai dinihari penting dilakukan pada malam 1 Suro sebagai arena mabit. Membuat jeda dari hidup yang kemrungsung. Ruang pemberhentian untuk menemukan intisari perjalanan hidup. Agar formasi kapan sebagai hamba sekaligus saat jadi khilafah, bisa seiring sejalan.

 

Ketika semua warga desa sadar akan upaya nyengkuyung dan membuat kenduri bersama. Di saat itulah seseorang berlatih untuk semakin menemukan pola hidup yang selaras, tawazun, seimbang sekaligus penuh keberkahan.

Mari melingkar bersama dalam Majelis Maiyah Dusun Ambengan, Sabtu 23 September 2017. Jam 19.30 WIB di Rumah Hati Lampung. Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *