SLUMAN SLUMUN SLAMET

Setiap manusia ingin selamat. Agama adalah pemandu keselamatan hakiki manusia. Hanya saja kesejarahan peradaban dan kebudayaan mencitarasakan arti keselamatan secara luas dan beragam tergantung pencerapan manusia atas informasi nilai, pengetahuan, ilmu, yang diterima dan diolah melalui kesadaran interaktif empiriknya.

Manusia berjibaku mengolah hidup sesuai potensi, bakat, dan fadilahnya masing-masing seluas Allah mempersediakan peluang yang berhingga kemungkinan penapakan dan pendakian di alam raya. Tapi inti dari seluruh ikhtiar manusia, pastilah ingin selamat.

Di khasanah peradaban Jawa, kita mengenal terminologi selamat dan atau keselamatan melalui ungkapan “Sluman Slumun Slamet”. Trilogi kata selamat tersebut secara naluriah senantiasa terbit di hati manusia yang meniscayakan prestasi kehidupan adalah keselamatan.

Betapapun cara, lelaku, dan ekspresi dalam memanifestasikannya. Seperti misalnya, mewujud dalam lelaku ngilmu kasepuhan, tirakat lelaku puasa, ajian mantra-mantra, hingga amalan doa-doa yang terkabarkan secara verbal ajaran syariat didalam kitab suci agama.

Idiom Sluman Slumun Slamet diangkat sebagai Tema Kajian Sinau dan Bergembira Bersama Maiyah Dusun Ambengan Edisi 51, yang gelarannya akan berlangsung pada Sabtu 16 November 2019 Jam 20.00 WIB di Rumah Hati Lampung Desa Margototo Metro Kibang Lampung Timur.

Sesiapapun berhak seluas-luasnya terlibat dan melibatkan diri di forum maiyahan ini. Melingkar bersama dalam gelombang dan energi kesejatian dan keselamatan*

#MANov | twitter | instagram | facebook |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *