Reportase Premangan dan Nasehat Marja Maiyah

 

Cuaca mendung sejak siang, tidak menyurutkan langkah para jamaah untuk datang ke Rumah Hati Lampung, tempat digelarnya acara sinau dan bergembira bersama Maiyah Dusun Ambengan. Tema kajian pada Sabtu, 18 Maret 2017 malam itu berjudul “Premangan.”

Poster yang ada di Perempatan Desa, sebelum acara dimulai. Berdiri dengan semangat gotong royong.

DEMI kenyamanan jamaah jika hujan turun, para penggiat Maiyah Dusun Ambengan memasang tenda sejak selepas salat asar. Seperti biasa, di depan pintu masuk sudah tersedia meja dengan jajanan dan teh atau kopi panas selepas maghrib. Jamaah yang baru masuk tinggal pilih. Kue yang diolah para ibu jamah yang kebetulan bermukim di sekitar Rumah Hati Lampung dan teh atau kopi yang disedu dengan gotong royong, dapat dibilang menambah gayeng. Kenikmatan sinau bareng. Belum lagi pada edisi kali ini cukup spesial karena Maiyah Dusun Ambengan langsung dihadiri Cak Fuad berikut istrinya, Cak Mif dan istrinya, Cak Yus dan Mbak Roh. Rombongan dari Yogyakarta yang juga keluarga kandung, kakak dan adik dari guru kita semua,  Ehma Ainun Nadjib.

Ikut menemani keluarga besar Dzat Maiyah itu, Pakde Mus, pimpinan Ponpes Darul Mutaqien Pancasila.

Pukul 20.00, acara dimulai dengan tadarus Al-Quran. Surat Ar Rahman dan Al A’roff ditartilkan yang kemudian dilanjut dengan doa dan tahlil.

Seiring berjalannya waktu, jamaah yang datang pun semakin banyak, langsung merapat, duduk bersila, disambut alunan salawat Nariyah oleh awak Jamus Kalimasada.

Terlihat, jamaah mulai menikmati keseimbangan Maiyah dari berbagai sisi. Sajian-sajian group musik Jamus Kalimasada juga tampil kian matang dan apik. Ketika dikumandangkan salawat Abba Bakrin yang digubah Kiai Kanjeng, beberapa jamaah terlihat begitu khidmat.

Tepat pada pukul 21.10, Cak Sul naik ke panggung yang diiringi improvisasi musik Jamus Kalimasada. Langsung disambut dengan Ya Thoibah, nada dan semangat jamah terlihat dalam kumandang salawat itu: “Ya Thoibah, Ya Thoibah, Ya Dawal Ayana…

Seorang jamaah diminta maju, mengemukakan gagasannya seputar tema “Premangan”.

 

Premangan itu Puasa

Premangan, didedah Cak Sul sebagai upaya mencari kebenaran. Bukan mencari-cari siapa yang benar dan siapa yang salah dalam berbagai laku hidup, melainkan mencari kebenaran sejati. Itulah esensi Maiyah.

Forum pengkajian yang berada di pedalaman Lampung Timur itu, bukan saja penuh ujaran keilmuan dan pendalaman keislaman, lebih jauh berusaha memantik kesadaran semua jamaah. Cak Sul dengan gaya khasnya terus memancing jamaah untuk ikut dan berani mengemukakan pendapat.

Seorang jamaah, tiba-tiba maju memberikan sebuah argumen. “Menurut penafsiran saya, Premangan adalah cara kita berhati-hati dalam mengkonsumsi makananan.”

Tubuh kita butuh makan, jelas dia, namun dalam makan harus sesuai dengan takaran dan kaidah-kaidah yang disyaratkan bagi tubuh. Jamaah lain mulai terpancing. Sahut menyahut mendedah makna Premangan.

Ada yang mengatakan bahwa premangan adalah sama dengan laku berpuasa. Semua agama tidak melarang, bahkan menganjurkan kepada umatnya untuk berpuasa dengan hukum dan tata cara masing-masing. Termasuk binatang pun ketika akan menemukan peningkatan hidup, berpuasa. Ayam berpuasa untuk mengerami telurnya, dan lain sebagainya.

Premangan atau berpuasa, tidak hanya berhenti pada makna tidak makan saja, lebih jauh, kita juga harus berpuasa dan mempuasakan diri hal atau perbuatan yang tidak baik. Cak Sul kemudian meminta agar awak musik Jamus Kalimasada kembali mengahangatkan suasana. Secara piawai kemudian Jamus Kalimasada membawakan lagu Sujiwo Tedjo yang berjudul Goro-Goro. Disusul kemudian dengan lagu dari Rhoma Irama.

Dalam kesempatan kali ini, datang juga perwakilan Palang Merah Indonesia perwakilan Kota Metro. Bukan saja merespon positif dan mengapresiasi gerakan sosial dari Maiyah Dusun Ambengan yang menamakan dirinya Komunitas Pendonor Darah Gratis yang disingkat Monitor Artis itu. Perwakilan PMI Kota Metro, Mas Andi itu juga ikut mendedah makna Premangan. Terkait dengan pentingnya “berpuasa” makanan agar badan kita selalu sehat, tidak mudah terserang penyakit.

Pesan Marja Maiyah

Maiyah Dusun Ambengan edisi ke-19 ini, sangat spesial dengan kehadiran langsung salah satu Marja Maiyah, Dr. Ahmad Fuad Effendy, MA yang akrab disapa Cak Fuad, Cak Mif dan Cak Yus (kakak dan adik kandung dari guru kita Cak Nun) beserta keluarga Maiyah PadhangMbulan.

Hadir juga KH Mustofa Wagianto (Pengasuh Ponpes Darul Muttaqin Pancasila Sakti Kemiling, Tangjung Karang Barat) yang lebih akrab disapa Pakde Mus.

Cak Fuad berkisah awal mula lahirnya Maiyah. Pengajian dengan ribuan jamaah di setiap titik yang tersebar di seluruh Indonesia ini tidak tiba-tiba. Melainkan diawali dari 23 tahun lalu. Sebuah pengajian keluarga yang awalnya dimulai di rumah Cak Nun di Jombang. Pengajian itu diberi nama Padhang Mbulan. Setiap bulan purnama digelar dan sampai hampir semua tokoh nasional datang, lahir masyarakat salawat, Hamas, dan berbagai wirid yang meneguhkan keindonesiaan dan keislaman kita.

Kehadiran Marja Maiyah ke Rumah Hati Lampung dan ikut mengisi salah satu simpul Maiyah ini bahkan diakui Cak Fuad, sudah diatur oleh Allah. “Semua sudah diatur oleh Allah SWT sehingga saya dan rombongan bisa hadir di Majelis Maiyah Ambengan ini.”

Maiyah ini, jelas beliau, 23 tahun yang lalu yang berawal dari sebuah pengajian kecil di mushala keluarga. Cak Fuad menekankan dari gerakan Maiyah. “Jangan pernah meremehkan sebuah perbuatan baik, sekecil apa pun, juga jangan mudah kita tinggalkan perbuatan baik, walau sekecil apapun.”

Pesan-pesan dan nasehat Cak Fuad benar-benar membesarkan hati jamaah, terutama para penggiat Maiyah Dusun Ambengan. Menurut beliau, pasang surut jamaah secara jumlah, besar kecilnya jamaah, itu bukan ukuran kebaikan. “Target Maiyah itu bukan pada banyak atau sedikitnya jamaah, melainkan apa yang bisa jamaah dapatkan dari Maiyah.”

Pendapatan dalam kajian Maiyah, lebih diuraikan Cak Fuad bukan soal materi atau kebendaan. Orang-orang Maiyah sudah melampaui itu semua. Materi dan kebendaan itu mestinya sudah dijadikan alat untuk semakin mendekatkan diri pada Allah.

Dilanjutkan oleh Cak Mif, bahwa maiyah ini bermula pada tahun 1994 dari sebuah omong-omong kecil, pengajian dan berdiskusi di mushola keluarga yang kemudian berproses hingga menjadi majelis Padhang Mbulan sekarang ini. Diketahui, pengajian Padhang Mbulan adalah sumur Maiyah yang menjadi sumber mata air ilmu dari semua simpul-simpul Maiyah yang sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara Cak Yus, salah satu adik Cak Nun mengatakan tidak peduli saat ini kita sedang berada dimana, akan tetapi apa yang kita lakuan itulah yang terpenting. Beliau juga memberikan saran-saran dan mendoakan supaya majelis Maiyah Ambengan bisa lebih baik ke depannya. Tidak lupa beliau juga sangat mengapresiasi keberadaan Jamus Kalimasada yang menjadi pembeda dan penguat Maiyah Ambengan ini.

KH Mustofa Wagianto (Pakde Mus), selain ikut membawakan salawat yang digubah Kiai Kanjeng, juga tak ketinggalan memberikan masukan dan saran kepada semua.

Beliau juga langsung mendoakan, ke depan Maiyah Ambengan ini bisa lebih baik dan semakin berkah. Semua jamaahnya juga mendapatkan keberkahan dari Allah.

Pakde Mus juga memberikan kenang-kenangan, sebuah buku hasil tulisan beliau. Buku yang ditulisnya itu, bukan hanya tentang kesendirian dan kesunyian, namun berkisah tentang hakekat menikmati kesunyian. Dimana jalan hidup bermaiyah yang sudah dicontohkan Dzat Maiyah adalah menempuh jalan sunyi.

Tepat pada pukul 00.45 WIB, rombongan keluarga besar Maiyah Padhang Mbulan berpamitan untuk undur diri lebih dahulu ke Bandar Lampung. Kemudian, Cak Sul setelah memberikan nasehat pamungkas tentang pentingnya untuk terus mencari kebenaran dan bermaiyah. Membumikan segitiga cinta, mencintai Allah, Rosulullah Muhammad SAW dan semua manusia, terutama jamaah.

Bersyukur dan terima kasih atas hadirnya Pakde Mus dan rombongan yang dipimpin Marja Maiyah yang sudah membesarkan hati, gedein batin jamaah Maiyah Ambengan untuk terus berbuat baik, sekecil apa pun.

Majelis Maiyah Ambengan kemudian diakhiri dengan berjabat tangan, selanjutnya menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan oleh ibu-ibu Rumah Hati Lampung. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *