REPORTASE DENDANG KUASA

Di hari kelima bulan Muharram 1440 H, tepatnya Sabtu, 15 september 2018, Majelis Maiyah Dusun Ambengan edisi ke 37 kembali digelar. Tema yang diangkat dalam kajian rutin bulanan kali ini adalah Dendang Kuasa. Segala persiapan untuk lancarnya acara dilakukan para penggiat dan ibu-ibu lingkungan Rumah Hati Lampung sejak pagi hari hingga menjelang dimulainya acara.

Selepas Isya, acara dimulai dengan tartil quran dan pembacaan tahlil yang dibawakan oleh Mas Saif dan Kang Darmin dibarengi dengan mulai datangnya jamaah untuk mengikuti dan menyemak tartil Quran serta turut membaca tahlil dengan khusyuk.

Pukul 20.15 Pak Sulis, Pak Sukendar, Pak Narto dan Pak Cipto, maju kedepan bersama-sama memaparkan progres dari divisi kegiatan Rumah Hati Lampung, Monitor Artis dan SSB Astama kemudian dilanjutkan dengan mendedah tema yang dimoderatori Mas Saif. Satu persatu mengungkapkan pendapatnya tentang tema yang dimaksud. Mereka berusaha menjelaskan apa itu dendang, apa itu kuasa dari segi bahasa dan makna. “Dalam menjalani hidup, kita memerlukan sebuah inspirasi, mengambil kata bijak dari kanjeng Sunan Kalijogo. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang tanpo Ngasorake. Begitu kira-kira ketika kita memperjuangkan hidup kita, sebagai seseorang yang bermanfaat” Kata Pak Sulis.

Bedah tema bersama pegiat Maiyah Dusun Ambengan

“Kita Hidup dengan kekuasaan kita supaya bisa menguasai apa yang ada di dalam diri kita,” Lanjut Pak Sulis.

Sedangkan menurut Pak Narto, dalam konteks kekuasaan dan penguasa, dendang kuasa adalah sebuah dinamika seseorang untuk mencapai kekuasaan itu sendiri. Titik tekan yang disampaikan menunjukkan bahwa manusia memanglah memiliki kuasa yang melekat di dalam inti personalitasnya. Mereka mewanti-wanti, bahwa setiap umat manusia harus berhati-hati menggunakan kuasa yang diamanahkan kepadanya. Berkat ke-spesialan akal, manusia harus menyadari ulah mereka di dunia ini begitu signifikan. Bumi ini adalah medan untuk manusia memimpin. Teratur ataupun tidak, manusia telah ditetapkan untuk mengelolanya.

Mengawali acara inti, Cak Sul mengapresiasi jamaah yang telah diperjalankan oleh Tuhan, tidak terhalang jarak rela datang dan berbagi kegembiraan bersama Maiyah Dusun Ambengan. “Apa yang kita punya harus kita syukuri, karena kita tidak tahu apa rahasia yang ada dibalik semua ini, dan karena kita adalah pencari rahasia. Kun fayakun itu kan terjadi karena ada rahasianya,” kata Cak Sul yang dilanjutkan dengan Gamelan Jamus Kalimosodo membawakan dua nomor aransemen Kiai Kanjeng, One More Night dan Henevo Salom.

“Tuhan itu maha kuasa dan memberikan kuasanya pada kita, punya 99 nama dan kita diwariskan untuk punya sifat itu semua, tinggal bagaimana kita sebagai manusia mendialektikakan itu semua menjadi sebuah output yang berupa kebaikan,” kata Cak Sul.

Menambah kemeriahan, Pak Samsun, Pak Widodo dan anggota Polsek Metro Kibang maju kedepan didaulat untuk berdendang bersama diiringi Gamelan Jamus Kalimosodo dalam nomor-nomor tembang Tak Lelo Lelo Ledung, Ela Elo serta Jo Podo Nelongso.

Narasumber sedang merespon tema Dendang Kuasa

Malam itu, Raden Mas Panji Sosrokartono selalu disebut-sebut. Mulai dari histori kehidupannya, genealogi pemikirannya, hingga peninggalan syair saktinya. Lapis demi lapis, syair tersebut dibahas dan dicarikan relevansinya dengan paradigma hidup generasi abad 21.
Begini isi liriknya :

Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih

langgeng….
tanpo susah….
tanposeneng….
antheng mantheng…..
Sugeng jeneng….

 

Penampilan Jamus Kalimosodo

Manusia adalah makhluk yang semestinya bermartabat. Ia harus berbeda dari batu, tumbuhan dan hewan. Martabat itu bisa ditempuh dengan kita jadi manusia yang seadanya dan semestinya. Manusia yang berdaulat. “Makane, ati iki kudu ditoto karo bandul mizan kae, men anteng,” ujar Cak Sul.

Hal itu salah satu cara mendapatkan kemanusiaan seorang manusia. Menambah mesra suasana, lagu Sugih Tanpo Bondho dibawakan Jamus Kalimosodo menghibur jamaah.

Sesi berikutnya, Pak Nano Dari Polsek Metro Kibang, Pak Kudarto Dari Koramil 0411-23 Metro Kibang memberikan tanggapan dan apresiasi serta membersamai turut mengelaborasi tema yang diangkat dengan mengajak jamaah menyikapi perkembangan, persoalan situasi dan masalah-masalah yang terjadi pada saat ini.

Martabat adalah prasyarat awal manusia itu dapat menjaga kualitas kemanusiaannya. Hilang martabat, hilang kemanusiaan. Khalifah Fil Ardh adalah kemanusiaan, bukan ke-batuan, ke-tumbuhan, atau ke-binatangan. Kemanusiaan adalah bukan hanya seperti benda bergerak, atau cuma bertumbuh berkembang, beranak-pinak, dan meluapkan nafsu-nafsu ke-hewanan tanpa batasan-batasan yang telah ditentukan Tuhan dan dicontohkan Nabi Muhammad.

Pada sesi berikutnya, Mas Galih dari Pardasuka,Kabupaten Pringsewu, Mas Hamid dari Trimurjo Lampung Tengah, dan Mbak Yuni dari Batang Hari yang juga ketua SBMI Lampung dan ustad Solikhin dari Seputih Banyak dan Mas Nurdin yang juga aktif di Suluk Maleman maju ke depan forum memberikan testimoni tentang majelis Maiyah Dusun Ambengan. Mas Galih yang rumahnya berjarak sekitar 70 km dari Rumah Hati Lampung rela untuk mendatangi Ambengan mengendarai sepeda motornya. “Saya datang kesini ingin menjalin silaturahmi, tidak dengan ikatan hutang, tapi ikatan kemanusiaan,” ungkapnya. Sebuah nomor milik Soneta Rambate Ratahayo yang diarransemen ulang Jamus Kalimosodo, kemudian disuguhkan kepada jamaah, suasana makin regeng.

Ustad solikhin juga sangat mengapresiasi kajian seperti Maiyah Dusun Ambengan. “Ini menjadi ajang untuk kita ngaji bareng, banyak hal yang bisa kita temukan di sini sehingga akan bertambah wawasan ilmu kita,” kata beliau yang juga berniat untuk ajeg, istiqomah menjadi warga maiyah dan ikut ngaji bareng terus tiap bulan.

Di lain barisan, Mas Isak, mengatakan bahwa dirinya sangat antusias untuk menghadiri kajian seperti maiyah Dusun Ambengan seperti ini, walaupun orang tuanya sakit. Dan setelah Mas Isak mengakhiri pembicaraan, Cak Sul menyela sebentar dan meminta kepada jamaah yang lain untuk menghadiahi Al-Fatihah untuk orang tuanya Mas Isak agar diberikan kesembuhan yang dipimpim oleh Ustad Solikhin.

“Kalau Gusti Allah tidak menjadi bandar kita semua, lantas siapa? Hanya Dia yang memang benar-benar penguasa. Berdasarkan pengakuan yang paling jujur, kita adalah manusia hina. Apa yang dilakukan Nabi Yunus ketika di dalam perut ikan? Ia berdoa : Laailaahailla anta Subhaanaka, innii kuntuminazzhaalimiin. Dengan kualitas manusia yang agung, Nabi Yunus dengan rendah hati mengatakan bahwa dirinya manusia yang dzalim. Maka itu, kita yang memang manusia penuh zalim, harus menyadari kita sebagai manusia yang penuh dosa, kemudian memohon ampun.

Pada sesi terakhir, bang Cepi jamaah dari Kota Metro memberikan tanggapan mengenai tema. “Dendang kuasa kalau dilihat dari gambar (poster) itu yang tidak boleh terjadi, yang harus kita lawan kekuasaan di dunia itu selalu berdendang, sedangkan kekuasaan yang sejati itu tidak berdendang, dia tegak lurus,” katanya.

Sajian Maiyah Dusun Ambengan

“Hidup kita harus dinamis, Aku yo urung pesti iso koyo ngunu, dewe belajar bareng, mumet biasa, salah yo ora duso, sing penting digoleki terus pie sek bener, yang sedang sedang saja, umatan washaton. Jangan kesulitan kita membuat kita melipat muka, biasa-biasa sajalah, nikmati dan syukuri. Trimo mawi pasrah sepi pamrih tebih ajrih,” tutup Cak Sul.

Pada pukul 01.30 WIB, Maiyah Dusun Ambengan dipungkasi Jamus Kalimosodo dengan lagu Hasbunallah Wanikmal Wakil dan Sholawat Nabi, mengadaptasi gubahan Kiai Kanjeng, sambil jamaah bersalam-salaman diteruskan dengan makan bersama.*
(Jefri/Ari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *