Reportase Buka 2Tak

JAMAAH Maiyah Dusun Ambengan, khususnya para penggiat, memulai kajian sejak awal bulan Ramadan. Diawali dengan mendiskusikan tema yang kemudian disepakati “Buka 2Tak” membuat Mukadimah, Banner untuk di perempatan desa, sampai kemudian menebar undangan lewat medsos.

Tepat pada Sabtu, 17 Juni 2017 siang, jamaah dan pengggiat Maiyah Dusun Ambengan sudah terlihat sibuk. Puasa adalah arena semua orang untuk terlibat mengais keberkahan. Dari menyiapkan kudapan dan menu berbuka puasa, sampai memberi hidangan santap sahur bersama, menunjukkan nuansa perdesaan yang kental nilai-nilai gotong royong. Bahkan, sejak buka bersama para penggiat di rumah Mas Kendar yang merangkap kajian Reboan untuk mempersiapkan semua gelaran Ambengan, para penggiat sudah memberikan perhatian baik tenaga, materi sampai memenuhi semua kebutuhan demi suksesnya acara.

Penggiat dan jamaah perempuan sudah terlihat sibuk menyiapkan menu berbuka di Rumah Hati Lampung.

Setelah berbuka bersama, salat magrib berjamaah, dilanjut dengan salat isya dan terawih, Cak Sul, pimpinan Maiyah Dusun Ambengan memperkenalkan dan mempersilahkan anak-anak muda desa yang hobi musik, membuat aransemen dengan alat musik Jamus Kalimasada agar lebih mampu memberi warna ketika mengusung salawat dan berbagai keindahan musik lain yang dianggap lebih membumi.

Usai mendedah tema “Buka 2Tak” yang digawangi Mas Saif, Cak Sul tampil mengemukakan gagasan-gagasan puasa yang sudah banyak diulas Mbah Nun untuk dielaborasi bahwa hidup itu hakekatnya puasa. “Sampai masuknya waktu berbuka pun, kita masih dituntut untuk berpuasa agar tidak menuruti nafsu,” kata Cak Sul.

Dalam nyengkuyung dan membersamai masyarakat desa, jelas Cak Sul, sudah diberikan tauladan oleh guru kita semua, Mbah Nun yang waktunya habis untuk memberikan pelayanan pada masyarakat. “Sebuah berkah dan kesedihan sendiri sebenarnya, sebab malam ini, Ambengan berbarengan dengan Mocopat Syafaat di Yogyakarta yang langsung dihadiri Mbah Nun. Akan tetapi kita mesti melaksanakan malam ini dan insya Allah sudah diberikan izin dengan pesan Mbah Nun untuk senantiasa memuji Allah dan bersyukur serta mampu nyigar segoro.”

Jamaah yang sudah hadir lebih awal, bisa menikmati menu buka bersama dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur.

Pesan Nyigar Segoro

Pesan “nyigar segoro” yang diungkapkan Mbah Nun ke Cak Sul, tidak ada jamaah yang mengerti maksudnya secara pasti. Bahkan tak berani memberi tafsir. Dimana inti izin waktu bersamaan dengan Mocopat Syafaat, tidak ada larangan sebagaimana jika bersamaan waktunya dengan “Padhang Mbulan” sebagai sumur Maiyah. Seluruh simpul wajib menunda maiyahan untuk mengikuti majelis “Padhang Mbulan”.

Cak Sul, menguraikan berbagai dalil puasa yang wajib dilakukan semua orang muslim. Beliau membacakan ayat 183 dari Surat Albaqarah. “Ya Ayyuhalladziina amanuu kutiba ‘alaikumussiyaamu kama kutiba ‘alalladziina minqoblikum, la allakum tattaquun.”

Majelis Ambengan adalah ajang sinau dan bergembira bersama. Ketika mengelaborasi dan mendedah tema, bahkan dilakukan dengan asyik, sama-sama belajar tanpa menggurui. Dan pesan yang selalu diulang-ulang. Yaitu, mencari kebenaran bukan mencari siapa yang benar dan menyalahkan liyan.

Salah satu jamaah, bahkan menguraikan, sehabis puasa Ramadan itu baru terlihat hasil dari puasa. Menurut dia, ada dua kemungkinan puasa. Berhasil atau gagal dalam menjalankan ibadah puasa. “Semuanya dapat dilihat dari kehidupannya sehari-hari.”

Puasa itu, jangan hanya menahan hawa nafsu. Melainkan sebuah proses untuk menjadi takwa. Karena Allah tidak menuntut hasil, tetapi proses untuk menjadi takwa itu yang mesti dilalui. Sampai kemudian menjadi orang yang beruntung.

Hadir membersamai majelis Ambengan, Cak Wan. Kedatangan kiai dan pengasuh ponpes yang nyentrik ini memberikan nuansa lain. Bahkan ketika menyebut namanya, sudah memberikan kegembiraan bagi jamaah. “Nama saya Cak Wan Aditama Mangku Randa Lima Semok-semok Semua.”

Jamaah yang umumnya warga desa itu terlihat gayeng ketika anak-anak muda desa membawakan salawat dan beberapa tembang dangdut.

Kemudian, Cak Wan menjelaskan bahwa Allah menghargai proses dan amalan yang rutin dikerjakan. Sebagai perumpamaan, lanjut dia, kenal dengan Mas Cipto ini sudah 25 tahun yang lalu.  Mas Cipto ini, sekarang jadi koordinator Monitor Artis, semasa SMP merupakan siswa yang nakal. “Suka membolos, banyak kasus, pokoknya yang nakal-nakal ada semua sama Mas Cipto,” sontak semua jamaah tertawa. Termasuk Mas Cipto sendiri ikut terpingkal-pingkal.

Tetapi, lanjut Cak Wan, sekarang Mas Cipto sebagai Koordinotor Monitor Artis (Komunitas Donor Darah Gratis) yang berkerja secara sukarela dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial untuk menolong dan membatu orang banyak tanpa pamrih. “Siapa yang menyangka teman-temannya dahulu bahkan guru sekolahnya sekalipun, tidak menyangka kalau Mas Cipto 25 tahun kemudian menjadi pribadi dan penolong yang luar biasa. Berubah 180 derajat. Itulah proses dari takwa, logika Allah sangat berbeda dengan manusia.”

Bagaimana prosesnya? menurut Cak Wan, hanya Mas Cipto yang tahu dan mestinya suatu saat beliau bisa lebih intensif berbagi pengalaman spiritual itu agar menjadi cermin bagi kita semua. Agar dalam hidup ini tak mudah memberikan pengadilan atas laku benar dan salah seseorang sampai berani menghakimi seseorang itu pasti masuk neraka.

Puasa mestinya membuat kita semua sadar, bahwa hanya Allah yang punya hak menghakimi. Tugas kita manusia ini hanya berproses menjadi manusia baik yang sudah diberikan contoh dan tauladannya oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Hadir juga Mas Kahfi dari Komunitas Sekelik Sedulur di Lampung Tengah. Beliau banyak mengulas seputar puasa dan kehidupan di desa yang penuh nuansa gotong royong.

Arena Berbagi Ilmu

Menariknya, majelis Maiyah Dusun Ambengan yang membuat semua jamaah punya ruang berbagi. Berkesempatan menampilkan Mbak Yuli, salah satu jamaah yang pernah bekerja jadi Buruh Migrant Indonesia (BMI) di Hongkong itu, berkisah tentang pengalamannya mengikuti Sinau Bareng Mbah Nun.

Menurut beliau, sebelum berani merantau siapa pun mesti mempunyai bekal iman yang kuat. Sebab, jadi pekerja di Hongkong atau dimana pun, hanya kelihatannya enak. Padahal sangat pahit dan penuh penderitaan. Makanya harus kuat puasa. “Mbah Nun adalah ulama yang luar biasa. Beliau datang sama sekali tidak merepotkan kami. Dari transportasi, penginapan sampai semuanya, Mbah Nun sama Mbak Novia mengurus dan biayai sendiri.”

Pengalaman Mbak Yuli, diperkuat Mas Feri, yang pernah jadi BMI di Korea juga.

Mas Feri bercerita tentang Mbah Nun yang juga berhasil membuat simpul maiyah di Korea. Dimana beliau berhasil membimbing banyak BMI sekaligus gedein hati semua orang agar tidak terjebak pada prilaku menyimpang dan jatuh melakukan perbuatan dosa-dosa besar.

Mbak Yuli dan Mas Feri, menguraikan kebanyakan, kesalahan atau dosa BMI itu bukan soal prilaku jahat atau kriminal, melainkan dituntut kuatnya keimanan untuk puasa dan tidak mengumbar nafsu.

Mas Ferri ketika berbagi pengalaman ikut sianu bareng Mbah Nun ketika masih jadi BMI di Korea.

 

Hadir juga Mas Dwi Muhiddin yang aktif di Lembaga Pendidikan Maarif Lampung Timur. Beliau lebih menekankan, rindunya dengan Mbah Nun bisa sedikit terobati dengan mengikuti Maiyah Ambengan dan berterima kasih pada Cak Sul yang senantiasa konsisten menghibahkan tempat, waktu dan bahkan materi untuk terselenggaranya kajian malam ini.

Sementara itu, Kiai Fauzan yang tampil di akhir-akhir acara, lebih memberikan kunci-kunci hebatnya laku puasa. “Kenapa Cak Nun bisa hebat, karena Cak Nun itu selalu berpuasa dalam hidupnya,” kata dia.

Telur ayam bisa menetas, karena induknya mengerami dengan puasa. Ulat bisa menjadi kupu-kupu yang indah, juga karena berpuasa. “Jika kita ingin hebat, ya harus berpuasa,” katanya.

Kiai Fauzan yang memungkasi majelis dengan beberapa kunci puasa itu, menambah oase sinau dan bergembira bersama. Hadirnya group musik Jamus Kalimasada, berbagi ilmu dan keindahan semua yang hadir di majelis Maiyah Dusun Ambengan, diharapkan mampu memberi kontribusi positif untuk perbaikan masa depan. Dimana Camat Metro Kibang juga sempat berbagi pengalaman dan cara melihat sebuah kerja-kerja sosial. “Jangan menilai saya karena jabatan, tapi nilailah saya dari kinerja saya dalam melayani masyarakat,” ucap Pak Camat.(*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *