Proses Menjadi Juara itu yang Penting

Teruslah berlatih, menyatulah dengan bola yang kalian sepak.
Belajarlah dari rumput yang tetap tumbuh meski diinjakinjak.
Lakukan terus dan jangan berhenti.
Pancarkanlah selalu aura positif kalian ke segala penjuru.
Karena kalian adalah duta dari desa, sepakbola maiyah.

SEKOLAH Sepakbola (SSB) yang diberi nama Astama, resmi sebagai bagian dari khidmat jamaah Maiyah Dusun Ambengan untuk berkiprah di ranah yang bertagline gali potensi raih prestasi.

Sepakbola selain menjadi penanda sebuah kampung itu maju atau tidak, semakin menemukan relevansinya ketika gelaran olahraga paling banyak digemari anak muda di desa ini mendapat tempat yang layak. Dikelola secara serius, punya manajemen, ada standar kurikulum serta latihan yang ketat. Bukan hanya soal mengasah kematangan strategi, latihan fisik yang teratur dan kekompakan.

Memanfaatkan waktu tunggu sebelum berlaga, SSB Astama mengasah persaudaraan.

Namun di atas itu semua, SSB Astama yang sebenarnya bermula dari kegelisahan kolektif para penggiat Maiyah Dusun Ambengan serta anak-anak yang butuh “pengakuan” ini secara mengejutkan, ketika ikut berlaga dalam kompetisi level kabupaten untuk anak-anak usia di bawah 11 tahun, meraih juara.

Bisa dibayangkan, berlatih seadanya, tanpa pengasuhan guru yang berpengalaman saja mereka telah membuktikan diri, layak sebagai juara. Mengalahkan SSB yang sudah mapan dan lama bergelut dalam dunia persepakbolaan. Apalagi jika dilatih secara serius.

Akan tetapi, kompetisi sepakbola setelah digeluti secara intensif, SSB Astama yang dimulai dengan nilai-nilai keikhlasan, kejujuran, serta berbagai ajaran Maiyah yang melarang laku curang, mencuri umur dan semacamnya, ternyata menemukan pengalaman baru. Pantas kiranya PSSI dimana pun berada sulit berkembang dan maju secara murni.

Fenomena inilah yang kemudian SSB Astama semakin meneguhkan diri untuk memperjuangkan nilai. Menjadi juara itu penting, akan tetapi bagaimana cara-cara sportif sampai jadi juara itulah yang jauh lebih penting.

Berangkat bertanding bermodal tekad. Menang pertandingan bukan soal bagaimana caranya mencetak gol, bahkan sejak masa pendaftaran dan seleksi tim. Tidak mencuri umur, bermain curang dan mengatur skor adalah bagian dari komitmen menjaga harga diri.

Memang, diakui Kepala Sekolah SSB Astama, Sukendar. Pola asuh dan sistem pengajarannya, belum sepenuhnya modern. Namun jauh lebih cukup sebagai upaya melahirkan semangat dan mental juara bagi anak-anak. Terbukti, anak-anak dari berbagai penjuru desa termasuk yang rumahnya cukup jauh, ikut berlatih menempa diri.

Pengalaman bertanding ini diamini pelatih SSB Astama, Razdika. Bahkan ia menyebut, juara dalam kompetisi tak akan membutakan semua orang untuk menghalalkan berbagai cara agar menang. SSB Astama berkomitmen untuk tidak mencuri umur, tidak mempedulikan pengaturan skor dan kelakuan curang lain karena memang SSB Astama didedikasikan untuk mengusung nilai. Anak-anak yang berlatih juga tidak dibebani SPP. Pelatihnya adalah para penggiat Maiyah yang sudah belajar, selesai tentang kebutuhan matrial. “Jika berbuat baik, Allah pasti akan mendatangkan rezki yang jauh lebih berkah dan lebih banyak. Dan minhaitsu layahtasib. Dari arah yang tidak disangka-sangka,” demikian pesan Cak Sul ketika awal-awal menerima pengasuhan SSB Astama dalam naungan Rumah Hati Lampung.

Iuran untuk seragam, sepatu, kaos kaki, bola, bahkan ada donatur yang tidak terikat karena tergerak hatinya melihat anak-anak Astama. Beberapa kekurangan, sepenuhnya dirembuk orang tua dari anak-anak itu sendiri. Bahkan, medium berlatih, benar-benar dicari dari kekuatan alam yang sudah disediakan desa.

Ketika mesti berenang misalnya. Anak-anak itu oleh Mas Dika, Mas Beni dan Mas Ari diajak ke sungai. Mereka belajar mengatur pernafasan dengan berenang, berlari melawan arus serta tentu saja, telanjang melawan serta menikmati alam liar. Beberapa orang tua yang tahu keadaan itu, seketika berembuk sendiri, mengalokasikan anggaran agar anak-anak mereka diajak gembira sekaligus berlatih di kolam renang.

Kegembiraan dan nuansa bermain, sangat khas. Anak-anak inilah masa depan olahraga, sang penakhluk kecurangan dan bagaimana pun, sudah bermental juara jauh sebelum mereka menjadi pemenang dan pencetak gol. Sebab, kiper, sayap, bek, striker dan semua lini adalah soal tanggungjawab dan kekompakan.

SSB Astama bukan hanya menempa fisik, jago bermain bola mesti diimbangi kecerdasan spiritual dan intelektual. Meski dengan aneka keterbatasan, semangat anak-anak ini sebagai pembelajar adalah modal utama.

Bahkan, di antara mereka sudah punya cletukan-cletukan khas yang berani melawan “tak menghalalkan berbagai cara demi kemenangan.” Tidak menang, gak pateken.¬†Tugas kami bermain sebaik-baiknya. Tak peduli lawannya dari SSB mahal dan punya sederet prestasi.

Menariknya, para pelatih yang terdiri dari Mas Kendar, Razdika, Martoyo, Dardiri, Yuli Arianto dan Mas Beni terus menggelorakan semangat pada anak-anak desa yang menggetarkan itu. Bahwa merekalah cahaya yang memancar dari desa Maiyah. “Menjadi juara itu penting, namun cara sportif agar jadi juara, jauh lebih penting.”

Senyum kemenangan tim SSB Astama ketika meraih Runner Up pada Festival Sepakbola di Batanghari, Minggu, 10 April 2016.

Mas Dika bahkan menceritakan. “Berbagi rasa dengan anak-anak Astama adalah sesuatu yang sangat berarti. Belajar dari mereka tentang kepolosan dan keluguan, tentang ketulusan dan kejujuran. Juara Alhamdulillah, gak juara ya Alhamdulillah.”

Pengalaman ikut di berbagai kompetisi, bertanding dengan modal air dan bekal nasi rangsum alakadarnya, anak-anak ini tidak menunjukkan bahwa mereka dari desa di pedalaman Lampung Timur. Namun mereka mengabarkan, kamilah anak Indonesia yang layak sebagai pemain sepakbola. Meski kemudian yang terpilih tetap anak pejabat atau anak-anak dari perkotaan ketika seleksi PSSI. Anak-anak ini tak lagi peduli. Tugas mereka adalah tetap belajar di sekolah sampai setinggi-tingginya. Sampai benar-benar menemukan kesadaran. Ilmu yang sejati bisa di dapat dari mana saja, kemudian mereka bisa mengajarkan ke anak-anak desa generasi yang akan datang. Bahwa semua tempat adalah sekolah dan semua orang, termasuk anak-anak kecil ini adalah guru kita semua. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *