Pantun Pinuntun

 

PANTUN yang dijadikan terma mukadimah kali ini, mencakup dua etimologi. Pertama, pantun sebagai sastra klasik yang terdiri dari bait-bait yang strukturnya jelas berima, mengedepankan padanan kata dan keterhubungan diksi antara larik sampiran dan larik isi. Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang disebut juga, parikan. Dalam bahasa Lampung disebut, segata.

Di dusun-dusun pedalaman Lampung, dikenal juga acara “berbalas pantun”. Tradisi ini seringkali digelar ketika sehari sebelum acara pernikahan, puncak malam hajatan dilaksanakan. Pesta khusus muda-mudi, sebagai khasanah bergembira. Zaman dulu, tidak dikenal pertemanan yang dilakukan sembunyi-sembunyi dan hanya berduaan beda mukhrim. Mesti beramai-ramai dalam gelanggang yang punya batasan antara muli (gadis) mekhanai (bujang). Perkenalan pun, dituturkan dalam ucapan saling sahut, saling ejek, sampai kemudian saling puji dengan aturan-aturan yang ketat, penuturan pun harus memenuhi kaidah “berbalas pantun” sehingga butuh kecerdasan berbahasa, berpikir taktis dan sintaksis. Termasuk harus mampu secara cepat mengurai apa itu sampiran dan isi.

Berbalas pantun, bahkan tradisi berpantun, sekarang mulai hilang. Menariknya, tanpa memahami kaidah pantun, anak-anak sudah piawai melampui diktum pantun dengan menutupnya tanpa sampiran dan isi, seperti plesetan pantun para komedian yang memotong alur. “Jalan-jalan ke Kota Metro/Capek dong.

Pemasangan poster Pantun Pinuntun, tema Maiyah Ambengan di perempatan desa.

Semua itu bisa jadi penanda, anak-anak muda kita semakin jatuh dalam lingkaran kevulgaran tutur, tak mengerti tata bahasa dan sampai batas-batas tertentu, tanpa mengenal azas kepatutan dan adab. Cenderung bermental menerabas.

Kedua, pantun sebagai istilah dan kata sifat untuk menyebut padi yang masih baru njebul, belum berisi dan belum bisa dipanen. Padi yang masih melekat di batangnya. Pantun, masa sebelum jadi gabah.

Bahkan, jauh sebelum diolah menjadi beras, nasi, tepung atau kerak. Pantun adalah sejarah awal dari terciptanya proses makanan pokok. Pantun juga bisa menjadi kata benda yang akrab dengan pengharapan semua warga desa. Agar tumbuh berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan hidup setelah mengulas terma “tandur wal tandzur” beberapa waktu lalu. Mengurai pantun sebagai akar kebutuhan pokok atas pangan, layak kita diskusikan sebagai tema lanjutan.

Kemudian, ucapan “tun” seringkali dianggap personifikasi sekaligus bahasa yang lebih halus untuk semua istilah “ri” dalam vokabuler masyarakat transmigran yang mayoritas menghuni perdesaan. Pari misalnya, diperhalus jadi “pantun”. Lemari menjadi “lemantun”. Keri jadi “klentun”, meri jadi “mentun”, dan seterusnya.

Sementara makna pinuntun, lebih pada pedoman untuk kehidupan yang lebih tertata. Mengkaji “Pantun Pinuntun” bukan sebatas mencerecap apa yang sudah ada dan telah menjadi pemahaman publik untuk kemudian didedah ulang, menafsir kembali atau bahkan mendekonstruksi pemahaman yang sudah diketahui mengelabui khalayak. Menjauhkan dari Allah dan sejarahnya sendiri. Mukadimah “Pantun Pinuntun” adalah jalur mencari sekaligus memformulasikan apa saja untuk menemukan esensi sebuah titian hidup yang sejati. Basa-basi, seperti sampiran dalam pantun terkadang penting dilakukan sebagai kaidah kesopanan agar tidak jatuh pada kecenderungan bermental penerabas. Memotong pembicaraan dan menjadi generasi instan.

Melingkar-lingkar, terkadang juga penting untuk sampai pada intisari persoalan. Tepatnya, berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan liyan, tidak berlebih dalam tawa, termasuk di dalamnya, meresap ajaran moral kehidupan. Bahwa penting menyadari kehidupan kita sebagai hamba Allah, dimana pada level kemanusiaan juga bertugas sebagai khalifah di muka bumi.

Sejalan dengan nasehat Mbah Nun sebagai guru kita semua tentang “Gabah Den Interi” dimana segala ilmu dan bahkan pedoman hidup yang diajarkan Allah sama sekali tak berdampak ketika manusia hanya fokus untuk rakus pada dunia. Pantun Pinuntun adalah dedaran dan upaya mengais tetes-tetes keberkahan dari sepuluh prihal pada “Mata Air Kelima” yang disiarkan www.caknun.com.

Mata Air Kelima yang diulas Mbah Nun antara lain; Pertama, Maiyah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Kedua, Maiyah tidak memposisikan dunia sebagai tempat membangun kehidupan yang nyata berdasarkan kesejatian dan keabadian. Ketiga, Maiyah tidak berminat untuk memiliki dan menguasai dunia. Keempat, Maiyah tidak punya kesanggupan dan perangkat untuk mengubah kehidupan manusia di dunia. Kelima, Maiyah tidak berani ikut melakukan perusakan atas rahmat dan amanah Allah.

Keenam, tidak punya daya untuk menyelesaikan masalah-masalah manusia di dunia, apalagi menjadi dan menambah masalah. Ketujuh, Maiyah takut terlibat di dalam keserakahan keduniawian, penganiayaan hakikat dan martabat manusia, kolonialisasi terhadap bangsa-bangsa, pemalsuan literasi, penggelapan intelektualitas, pemincangan mentalitas, pemenggalan spiritualitas. Terlebih lagi melakukan pelecehan terhadap eksistensi dan hak Allah, penghinaan terhadap Agama-Nya serta para pecinta-Nya, pada tingkat dan kadar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kedelapan, Maiyah sekadar berikhtiar mengurangi beban-beban yang ditimbulkan oleh hubbud-dunya dan intisyarul-fasad. Kesembilan, Maiyah menempuh jalan agar tidak ikut sakit-dunia, tidak ikut dianiaya apalagi menganiaya, tidak ikut menipu, memperdaya, mengebiri, membonsai, menjebak, menggerogoti, melampiaskan keserakahan, mengkolonisasi dan mengimperialisasi. Kesepuluh, Maiyah berikhtiar dengan rasa syukur dan husnudh-dhon agar dijadikan bagian dari perkenan “gabah dèn interi” oleh Allah untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.

Mari ber-Pantun Pinuntun, melingkar di Rumah Hati Lampung dalam majelis ilmu, sinau dan bergembira bersama di Maiyah Dusun Ambengan, Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, Sabtu, 18 November 2017, jam 19.30 WIB. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *