OBAT KUAT SALAH ALAMAT

Perjalanan hidup manusia, sepanjang yang saya alami, dan saya yakini, semuanya berlalu bukan karena sebuah kebetulan. Melainkan seutuhnya, di bawah skenario Tuhan, atau diperjalankan oleh sang Maha Memperjalankan kehidupan.

Di sebuah pagi, saya dan sedulur-sedulur dari tlatah Sumatera pinggiran, tepatnya sebelah barat pulau Jawa dan agak serong ke selatan, memulai dan menikmati perjalanan Lampung – Jakarta, yang kalau boleh dikatakan sebagai laku yang penuh keganjilan-keganjilan. Sepanjang dari titik berangkat hingga perjalanan pulang kembali, diselimuti dengan keganjilan-keganjilan yang menggelikan, menggembirakan, dan tentunya masih dalam wilayah kerja Tuhan. Hmmm, bukankah Tuhan itu menyukai hal-hal ganjil?

Di benak terbesit menuliskan perjalanan atas dasar cinta dan percintaan, yang sangat kami syukuri, juga hikmahi. Itu semua adalah curahan-curahan Rahmat Tuhan yang cuma-cuma diberikan tanpa ada embel-embel pamrih setetes embun-pun.

Kok ya ndilalah, kami dipertemukan dengan antrian di pelabuhan Merak. Kami dirahmati Tuhan dengan cara disuruh untuk mengantri sejak pukul 05.30 hingga 13.00 WIB. Dalam perkara menunggu, pastilah perasaan kita diaduk-aduk dan diombang-ambingkan antara kegelisahan dan kesabaran.


Tapi kami tidak marah. Kebiasaan mengolah hati dan persepsi membikin kondisi seburuk apapun di hadapan kami, diolah menjadi hal, momen dan peristiwa yang sesungguhnya baik-baik saja. Ndak bikin gelisah, galau, kacau dan apalah. Kesemuanya itu kami maknai bagian dari lakon keganjilan. Dan bukan suatu kebetulan juga, kami menempuh perjalanan dengan jumlah rombongan ganjil, bertujuh orang pula. Mungkin Tuhan sengaja memperjalankan kami dengan keganjilan yang Ia rasukkan rahmat-rahmat tulus-Nya.

Sesaat setelah kapal feri berlayar menyebrangi selat Sunda, kami duduk di deck paling atas. Sejurus kemudian, live hiburan musik Organ Tunggal dimainkan oleh awak kapal. Sangat syahdu, plus sedikit bumbu-bumbu yang menggairahkan.
Bagaimana tidak, baru satu lagu pembuka oleh MC, dua biduan yang wuihhhh, memaksa mata untuk melirik tipis-tipis keduanya itu. Singkat kisah, saat kami sedang berbincang ringan namun bermuatan, kami dihampiri oleh kedua biduan itu untuk sekedar request atau menyumbangkan satu buah lagu.

Dalam momen ‘pemikatan’ itu, saya disanding duduk oleh seorang penyanyi. Dengan susun kata tertata, ia berharap saya mau berpartisipasi menyanyi satu tembang jawa. Namun karena saya memang sedang tidak berselera untuk bernyanyi, saya tetap ndak mau.
Tapi seorang ini cukup terampil dalam hal negosiasi. Dia memaklumkan jika saya menolak menyanyi, asalkan saya mau menyawer. Karena lama-lama saya gemas, saya bilang begini, “Saya ini ndak ada bakat untuk menyawer loh”.
Lha, malah dia menjunjung-junjung hati saya dengan bahasa : “Nanti bisa dikembangkan kok kalau cuma urusan sawer-menyawer, sekalipun mas ndak ada bakat untuk menyawer.”Begitu ucapnya.Saya tetap mesam-mesem dalam pendirian.
***
Kami berkumpul di Rumah Hati Lampung di Margototo, Metro Kibang – Lampung Timur. Rumah kami bersama secara keruhanian. Sebelumnya saya berangkat dari kediaman mertua berjarak sekitar 6 km dari Rumah Hati. Lima orang lain nya pun berangkat sendiri dalam perwujudan ganjil dan berkumpul di RH dalam hitungan ganjil pula.

Pukul 07.30, kami bertujuh berangkat, dikepalai oleh Cak Sul.
Biasanya, waktu tempuh normal dari Metro ke Pelabuhan Bakauheni membutuhkan waktu kira-kira 4-5 jam perjalanan. Namun, hari itu, Jum’at 21 Desember 2018, sedang dilangsungkan persiapan uji coba pemakaian ruas jalan Tol Trans Sumatera. Kami serombongan mencoba ‘mencicipi’ jalan baru itu. Saking lancarnya, tak terasa pancalan pedal gas oleh Mas Dika ke Pelabuhan Bakauheni, hanya ditempuh dua jam. Kami syukuri atas kelancaran awal perjalanan kami ini.

Lanjut cerita, pukul 09.30 kami masuk ke kapal feri penyebrangan Bakauheni – Merak. Parkir mobil dan langsung menuju deck kapal paling atas. Ya, yang tak luput juga, kami membawa kopi, rokok, serta makanan ringan secukupnya. Di tengah asyik manshuknya lingkaran perbincangan kami di atas deck kapal, datang menghampiri seorang penjaja wanita paruh baya.

Suatu hal yang umum kalau di kapal banyak penjaja kopi, teh juga makanan ringan. Namun satu poin ini, saya cukup tertarik pada produk yang dijajakannya. Wanita ini menawarkan ‘obat kuat’ tahan lama dan tahan banting dalam keperkasaan pria. Ada saja untaian bahasa promosi yang dia lontarkan kepada kami, dari mulai produk yang tawarkan itu sangat efisien secara harga hingga efektif khasiatnya yang sangat sangar terbukti dalam urusan di atas ranjang.

Beberapa dari kami merespon dengan candaan yang mengandung gelak tawa. Ada sanggahan bahwa tanpa asupan suplemen obat kuatpun, kami terbiasa tangguh dalam urusan di atas ranjang. Ada juga yang menyanggah kalau terlalu tangguh nanti terjadi ketidak seimbangan antara porsi suami dan istri. Dan sangat jelas dalam hal timbangan, kami selalu berjuang untuk mengupayakan hal yang ditengah-tengah, dengan artian tidak berat sebelah.

Jadi respon kami tersebut sudah cukup membantah kehendak si ibu penjaja obat kuat. Namun dengan spontan dan cepat wanita paruh baya inipun masih sempat membantah balik kepada kami. Ia tidak menyerah. “Ya kalau gitu mas yang ini, yang ini juga beli aja. Toh juga bisa dipakai sama gendaan (pacar/selingkuhan) di luaran sana. Obat kuat ini sangat universal loh mas, bisa dicampur di makanan juga di minuman.”

Haha, sesekali tawa seksi keluar dari kami. Namun dalam hati tetap menyangkal, kalau ber-euforia di ‘sawah’ yang bukan milik kami, sangat terang kalau kami tidak mungkin berani menjangkau cluster-cluster tersebut.*

 

Angger

Penggiat Maiyah Ambengan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *