My Darling

Poster tema Maiyah Dusun Ambengan yang dipasang di perempatan Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur.

MY DARLING, seringkali dianggap sebagai sebutan untuk olok-olok bagi orang kampung sebagai “modarling”. Modar Eling, orang yang baru sadar ketika menjelang ajal. Simbol keterlambatan dan penyesalan hidup.

My Darling sebagai tema Maiyah Dusun Ambengan edisi Januari 2017 adalah pembukaan tahun cinta, tahun kemesraan untuk benar-benar membumikan apa itu yang dianggap sebagai sikap pengasih dan penyanyang. Berlaku penuh kasih sayang, semata-mata upaya untuk mendapatkan curahan rahmat dan berkah dari Allah SWT yang memiliki puncak sikap, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.

Lebih jauh, darling bagi orang kampung adalah singkatan dari Sadar Lingkungan. Meski dalam arti bahasa Inggris juga bermakna “sayangku”. Sadar lingkungan dan “sayangku” menunjukkan sikap sayang, bedanya, sadar lingkungan lebih luas cakupannya, tak hanya khusus bagi personal melainkan pada semua makhluk di alam raya.

Etika “darling” atau sadar lingkungan, dalam ajaran agama Islam telah memberi petunjuk yang sangat jelas. Banyak ayat-ayat Al Quran yang dapat digolongkan sebagai “ayat ekologi”.

Bahkan, gambaran tentang kerusakan alam, dijelaskan pasti akibat ulah tangan manusia. “Telah kelihatan kerusakan di darat dan di laut disebabkan usaha tangan manusia.” Al Quran surat Ar Rum, ayat 41 tersebut sudah sangat jelas, kesadaran lingkungan penting untuk terus disuarakan agar terjaga kelestarian, ketentraman dan hidup yang berkualitas.

Masa awal terbentuknya dusun-dusun di berbagai permukiman yang sekarang padat penduduk, masih banyak kita dapati berbagai jenis burung berikut kicau indahnya setiap pagi. Pepohonan yang rindang. Ikan-ikan aneka macam di sungai, di rawa-rawa, di laut, yang sangat lezat, sangat mudah ditangkap. Sayur mayur tumbuh di pekarangan rumah, buah-buahan banyak liar di kebun belakang. Dampaknya, anak-anak dan warga desa dengan mudah terpenuhi nutrisi dan gizinya. Sekarang, pangan menjadi barang langka, kalaupun ada, harganya mulai mahal. Tidak ada lagi buah, sayur dan sedikit sekali ikan yang tumbuh liar di alam perkampungan dan didapat secara gratis. Memang masih tersedia di pasar. Namun demikian, orang-orang desa mulai berhitung sebab tak seimbang antara pendapatan dengan pengeluaran. Semua sendi kehidupan sudah mesti dijalankan berdasar kalkulasi ekonomi, untung rugi serta perhitungan mahal-murah. Yang lezat dan sehat selalu mahal, yang sekadar mengenyangkan cenderung murah.

Darling, bukan menawarkan perubahan atau semangat kembali ke alam liar. Melainkan sekadar menjadi permenungan untuk bersama-sama mengetuk relung kesadaran kita, peran manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, dituntut mesti adil juga bersikap pada semesta alam. Pemimpin harus mampu menjaga harmoni kehidupan, keseimbangan ekologi, dan mencegah berbagai kerusakan. Warga desa adalah pusat peradaban untuk tameng kelestarian alam. Maka butuh kesadaran akan nilai-nilai yang mampu jadi benteng moral atas upaya ekplorasi dan eksloitasi alam secara tamak, rakus dan tak pernah puas sebelum ditimpa musibah bencana alam.

Kita perlu menyadari puncak pemahaman bahwa alam mencukupi semua kebutuhan manusia, namun tak akan mampu mencukupi satu sikap serakah dari sedikit manusia wadak. Itulah inti yang diajarkan Cak Nun yakni, kemampuan mengendalikan diri, tirakat untuk menahan dari berbagai sikap-laku wadak. Sering dicontohkan Cak Nun, jika bisa cukup dengan memakan satu tempe goring untuk lauk, kenapa mesti memakan berpuluh-puluh tempe? Jika minum segelas air dari sumur bisa mengobati rasa haus dan menyehatkan, kenapa mesti meminum bergalon-galon air mineral kemasan yang disuling atau dicampur soda?

My Darling bukan mengajak jamaah Maiyah Dusun Ambengan untuk menolak modernitas, melawan efisiensi dan berbagai dalih ekonomis. Melainkan sekadar ajakan untuk merenungi sikap tentang seberapa mampu kita melawan nafsu lawamah, mental rakus, serta kapitalisasi semua sendi-sendi kehidupan. Desa masih punya semangat tenggang rasa, saling membantu antar-warga, kesadaran menjaga lingkungan karena hidup penuh panduan syukur dan ikhlas, sabar dan tawakal, meyakini satu hal, jika kita berjalan di garis edar yang benar, Allah yang akan menolong kita. Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang langsung memberikan syafaat dan kekuatan warga yang saling melindungi untuk tolong-menolong dalam berbuat kebaikan.

Suasana desa, tak pernah berubah. Sebagai daerah beriklim tropis, dimana ada siang-malam, ada panas dan ada hujan, menjadi penanda bahwa keindahan dan kecukupan kebutuhan hidup yang disediakan alam membuat kita merenungi ayat. “Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?” Di sinilah pentingnya kajian Maiyah Dusun Ambengan. Sebagai gelombang kebaikan Maiyah yang dirumuskan Cak Nun, kita mesti menjaga gawang kelestarian alam walaupun tak ada ancaman penggusuran, jauh dari keruwetan megaproyek yang mengancam kerusakan alam, kita mungkin hanya perlu menjaga “darling” dengan senantiasa menahan sikap wadak, seperti menggunakan air secukupnya, bertani semestinya, mengolah tanah sebagaimana layaknya. Tidak meninggalkan ketandusan tanah, tak menghabiskan air dan merangsek menghabiskan pepohonan. Mendangkalkan sungai dan meracun ikan agar mendapat keuntungan yang besar di luar batas kewajaran, kemudian meninggalkan kerusakan-kerusakan.

Majelis ini mengajak kita untuk kembali menggali esensi kedirian kita, memahami kecintaan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai manusia utama yang sangat sempurna menjaga keseimbangan hidup. Selalu sehat karena perutnya tak pernah penuh dengan makanan atau air. Melainkan mampu berbagi ruang antara udara, air dan makanan. Mampu selalu puasa di satu sisi, sangat luman (mudah bersedekah) di sisi yang lain.

Silaturahmi nasional seluruh simpul jamaah Maiyah di Yogyakarta beberapa waktu lalu, mensyaratkan kita mesti berjalan dari koridor cinta. Pertama, cinta pada Allah sampai kemudian Allah bisa memberikan cintanya kepada kita. Kedua, cinta pada Nabi Muhammad SAW sampai semua prikehidupan kita benar-benar mentauladani khotamul ambiyak itu. Ketiga, berkasih sayang sesama muslim. Dedaran surat salah satu ayat di Al Quran, Surat Al Maidah (54) tentang jika ada orang yang mayartadda minkum, memang dijanjikan dengan lahirnya enam golongan manusia. Inilah modal yang bakal kita diskusikan pada majelis Ambengan, Sabtu, 14 Januari 2017 nanti.

Mendedah makna My Darling, semoga membawa kita untuk senantiasa mampu menjaga koordinat dalam naungan segitiga cinta yang saling menguatkan. Mari melingkar di Maiyah Dusun Ambengan, Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur.  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *