Multi-Talking Proses Kehidupan

Talk Less Do More, slogan daya tarik salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia. Sering kali kita lihat di layar iklan televisi, produk olahan tembakau yang mengusung jargon tersebut jelas bukan semata-mata atas dasar kepentingan persuatif dagang semata.

Pertimbangan dan pemilihan akan kata-kata yang bermakna itu, jelas melampaui tahapan yang cukup mendalam akan kandungan nilai maknanya. Bagi kebanyakan masyarakat konsumen tayangan televisi, mungkin dianggap hanya sebagai pelengkap sponsor, di sela-sela acara sinetron melankolis dan drama-drama gosip tersohor.

Tapi bagi sebagian kecil orang, muatan nilai kata TLDM tadi, dimaknai dan di-ilmui cukup serius. Bila ditarik terjemahan per-kata dalam bahasa Indonesia, berarti “Sedikit Bicara, Banyak Bekerja”. Atau ada istilah persamaan lain dengan NATO (No Action Talk Only).

Titik berat yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas, kiranya adalah kepada kesungguhan dalam melakukan pekerjaan, bukan pada banyak bicaranya. Apapun pekerjaan itu selalu diupayakan totalitas. Sekalipun tidak mencapai tahapan maksimal, setidaknya apapun yang kita kerjakan menyentuh ambang optimal.

Jelas terlihat tujuan iklan disampaikan untuk para usia produktif, saat ini mungkin kerap disapa generasi Millenial. Di fase penuh kobar akan semangat, ide-ide gagasan baru, dan metode baru dalam menunaikan pekerjaan.

Disuguhkan kepada generasi penerus agar lebih fokus pada konsistensi kerja mencipta karya dibanding dengan porsi banyak bicara akan karya. Karena dengan berfokus pada proses pekerjaan, akan menghasilkan output hasil cipta yang unggul. Beda hal dengan terlalu banyak bicara, mayoritas akan nihil dalam hal produk cipta.

Sebenarnya di abad 21, digitalisasi dalam modernisasi ini, kita kudu melek akan kenyataan. Bahwa kita seharusnya lebih banyak bekerja dan bekerja, daripada mubazir membuang energi untuk terlalu banyak bicara.

Ada istilah ‘Multi-Tasking‘ dalam komputerisasi. Sebuah platform hardware akan diakui dan banyak dicari konsumen apabila performanya mampu melakukan banyak pekerjaan dalam waktu yang bersamaan.

Kita mungkin bisa petik nilai-nilai fungsinya, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu kita harus lebih sibuk dan fokus melakukan berbagai pekerjaan ketimbang mengunggulkan porsi banyak bicara yang sia-sia.

Saya kira itu bisa kita terapkan dan kita proseskan pada diri kita masing-masing. Karena apa? asal muasal segala kecanggihan teknologi, growth digitalisasi, peningkatan hardware komputer, upgrade software-software, kehandalan piranti industri modern dan semuanya, itu adalah duplikasi dari produktifitas manusia itu sendiri. Hanya di jiplak, dan di sistemkan secara firmware yang disematkan pada mesin bernama komputer. Sebagai penunjang dan alat bantu berbagai sektor pekerjaan manusia.

Namun pertanyaan mendasarnya, apakah kita mau atau tidak mendayagunakan kembali rahmat Allah SWT, yang telah dianugerahkan kepada kita dengan begitu rupa lengkapnya.

Dari hardware berupa tubuh sehat, lensa mata cemerlang, telinga sempurna, energi otak yang mumpuni dan banyak lagi lainnya. Serta dijodohkan pula dengan software berupa akal yang selalu ditaburi cahaya oleh Tuhan. Yang akan berfungsi dan dapat di-Multi Tasking-kan, itupun jika kita mampu mengkolaborasi, dan mendayagunakan antara fungsi perangkat keras dan perangkat lunak yang ada di diri kita.

_Majelis Masyarakat Maiyah Ambengan_
_Angger akdc_| 05 Juli 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *