MERDEKA & MERDESA

Sudah menjadi “ritual” tahunan pada setiap bulan Agustus masyarakat Indonesia bersorak sorai merayakan kemerdekaan dengan berbagai macam ekspresi. Umbul-umbul dikibarkan di setiap depan rumah, sang saka Merah Putih menjulang paling tinggi, suka cita gerakan gotong royong bersih-bersih lingkungan dan desa. Kelap-kelip lampu hias meruyak di banyak lorong-lorong permukiman.

Rangkaian perlombaan retro hingga semi modern disuguhkan kepada rakyat, sebagai wujud kebungahan atas peringatan momentum pembebasan negara dari penjajahan.

Secara general, merdeka diartikan dengan bebas dari segala tekanan, leluasa berdiri sendiri tanpa terkekang. Merdeka merupakan sebuah rasa kebebasan untuk mendapatkan hak dalam berbuat sekehendaknya (tanpa batas)?

Mengutip pernyataan Mbah Nun [Emha Ainun Nadjib]: Pengertian kemerdekaan yang hakiki, ialah mengarungi samudera kebebasan untuk menemukan dan mencapai batasan-batasan. Dengan begitu, kemerdekaan itu sendiri akan berkedudukan primer sebagai titik puncak yang memang layak diperjuangkan.

Contoh riil tentang kemerdekaan adalah ekspresi yang nampak dan bervariatif tatkala kita pernah merasakan keluar dari suatu belenggu kedangkalan berpikir. Yang mungkin menyesakkan hulu hilir nafas kita, menyekat ruang gerak ide baru, ketumpulan kreatifitas bersikap, menimbang keputusan hingga bertindak.

Kalau kata merdeka dan kemerdekaan berani digubah dan disamuderakan maknanya, sangat luas menyentuh setiap lini kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, bernegara, hingga mendunia.

Kemerdekaan sejatinya juga harus menjadi momen evaluasi dan refleksi kesadaran apakah kita sedang/telah mengembarai kehidupan di atas nilai-nilai keutamaan atau sedang menghamba ketamakan dan kerakusan. Maka di dalam merdeka kita harus merdesa.

Merdesa memiliki makna yang lebih dalam dari merdeka, apabila kita benar sungguh-sungguh menggali maknanya dari kehidupan masyarakat desa dengan keutuhan persatuan dalam perbedaan, kelayakan bersosial, kepatutan berinteraksi, kearifan lokal manusia-manusianya, bahkan sampai tingkat ketertataan sistem ekonomi, sosial, budaya, dan kesantunan bertindak laku.

Ibarat satuan baku, merdeka dan merdesa adalah jasmani dan ruhani yang takkan terpisah dalam hembus kehidupan. Satu bundel paket driver dan navigator yang mengakar kuat dan mengurat nadi disetiap titik kesadaran kehidupan.

Oleh karenanya ekspresi kemerdekaan akan lengkap dan sempurna apabila merdeka dan merdesa dijadikan nilai-nilai kehidupan yang luhur bagi setiap individu, anggota keluarga, himpunan masyarakat desa, komunalitas kota metropolitan, dan tatalaksana kenegaraan. Yang outputnya ialah kemslahatan bersama, ketentraman jiwa, saling asah asih asuh antar manusia dan alam, hingga bersinergi menjadi rotasi keberlangsungan hidup yang penuh kedamaian dan sejahtera.

Untuk mengupas lebih dalam makna merdeka dan merdesa, dibutuhkan banyak penggabungan pengetahuan juga pengalaman dari bermacam dinamika kehidupan. Untuk itu dengan segala keluasan dan keluwesan hati dan pikiran, mari kita berhimpun bersama untuk menggali dan menemukan pemaknaan merdeka dan merdesa dalam Majelis Masyarakat Maiyah : MAIYAH DUSUN AMBENGAN. Bertepatan dengan 4 Tahun perjalanan Simpul Maiyah Ambengan ini, pada hari Sabtu 24 Agustus 2019, Pukul 19.30 WIB di Rumah Hati Lampung desa Margototo, kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *