Menengok Keindahan Taman Jeruk Ambengan

MAIYAH sebagai organisme tanpa organisasi. Gerakan yang menyandarkan pada ilmu, langsung diwujudkan dalam amal-amal sebagaimana diajarkan Cak Nun, Cak Fuad dan Pak Kamba semaksimal mungkin dilesap. Menjadi muamalah di semua lini kehidupan warga yang menjadi jamaah.

Maiyah Dusun Ambengan merupakan sekelompok kecil, terdiri dari beberapa warga desa yang ada di Lampung Timur yang konsen pada kajian-kajian sosial masyarakat, keagamaan dan kebudayaan. Terletak di pedalaman Lampung Timur, tepatnya di Dusun 4, Desa Margototo. Namun siapa menyangka. Ternyata di dalamnya penuh semangat dan jiwa-jiwa tulus untuk serius berusaha membumikan nilai-nilai Maiyah.

Meski demikian, para penggiatnya tetap mengaku. “Saya ini masih belajar menekuni ilmu-ilmu Maiyah,” kata Mas Kendar.

Taman Jeruk Ambengan terlihat dari lereng paling atas, di dekat gubuk yang ada tanaman karetnya.

Mas Kendar adalah satu dari sekian penggiat di majelis Maiyah Dusun Ambengan. Beliau adalah warga yang asli lahir dan besar di Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang yang setelah kerja keras sejak usia muda, merantau sampai pernah menajdi Buruh Migrant Indonesia, mampu membeli tanah di pojok kampung. Tanah yang sebenarnya tak ada yang tertarik untuk memilikinya. Selain berlereng dan dianggap tidak bisa dijadikan areal sawah, tanah itu juga tersudut di belakang.

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Mas Kendar berinisiatif menanaminya dengan jeruk.

Belakangan, jika tiba musim buah, mendadak mengubah wajah desa sebagai destinasi agrowisata. Warga dari berbagai penjuru Lampung, datang untuk menikmati keindahan kebun jeruk itu, memetik dan menikmati sendiri buahnya yang manis.

Bupati Lampung Timur, Hj Chusnunia ketika mengunjungi Taman Jeruk Ambengan di Metro Kibang, beberapa waktu lalu.

Para orang tua, gembira dengan hadirnya kebun itu sebab bisa mengenalkan anak-anak mereka pada proses memetik dan menikmati manisnya jeruk langsung dari ladang.

Belakangan, Mas Kendar secara bulat meniatkan sebagai takzim atas gerakan Maiyah, memberi nama kebun itu dengan sebutan Taman Jeruk Ambengan. Seiring dengan gelombang “Janatul Maiyah” yang sudah ditelurkan dalam Silatnas Simpul Maiyah 2016 lalu. Nama taman atau kebun punya korelasi dengan janah, surga dan tempat yang menjadi tujuan semua orang Islam.

Memasuki perkebunan yang jadi Sisi Lain Perdesaan di Lampung Timur itu, kita serasa disodori alam dan keindahan sebuah taman yang benar-benar penuh kedamaian.

Meski beberapa pohon sudah terlihat berbuah, Mas Kendar menjelaskan, puncak buahnya diperkirakan pas habis lebaran. Antara bulan Juli-Agustus 2017.

Suasana masih berkabut. Namun orang-orang di perkampungan menuju kebun, sudah aktif di ladang. Beberapa diantaranya, sibuk mencangkul, menguruk jalan yang becek. Membenahi jalan itu, dilakukan secara sukarela.

Sebelum masuk area Taman Jeruk Ambengan, kita disodori ladang yang disebut “Tumpang Sari”. Sebuah metoda yang langsung ada tiga jenis tanaman. Yaitu, jagung, tomat dan cabai. Tepat ketika lewat itu, penulis menyaksikan ibu-ibu yang sedang memanen jagungnya. Sementara tomat dan cabai, sudah mulai tinggi dan menunggu musim panen. “Kata penyuluh pertanian sih, tomat yang ditanam dekat cabai ini bisa mencegah berbagai penyakit, jadi tomat kan buahnya hanya sekali, dan kita prediksi pas buahnya habis, cabai mulai berbuah,” jelas Bu Maryam yang ada di lokasi.

Tumpang Sari di ladang ini, dekat Taman Jeruk Ambengan ada tiga jenis tanaman. Jagung, tomat dan cabai. Setelah jagung berbuah, tomat dan kemudian cabai. 

Tepat di pinggir Taman Jeruk Ambengan itu, ada sungai kecil yang gemricik airnya cukup membuat suasana menjadi penuh kesejukkan. Menentramkan. Menurut Mas Kendar, musim buah jeruknya perkiraan di bulan Juli atau Agustus. Meski saat ini mulai ada satu dua pohon jeruk yang berbuah.

So, kapan lagi kita bisa menikmati keindahan dan kesejukan Taman Jeruk Ambengan?

Khusus yang punya sekolah PAUD atau TK, bisa menghubungi Mas Kendar jika ingin mengajak anak-anak menyaksikan dan mengenal langsung bagaimana memetik buah jeruk. Kenapa jeruk ada yang manis dan ada yang rasanya asam?

Jangan sampai anak-anak kita nanti, hanya mengenal rasa jeruk dari minuman ekstrak. Pemanis dan pewarna buatan yang diolah dari bahan kimia namun rasanya seperti jeruk. Sementara di pojok kampung kita sendiri, ada Taman Jeruk Ambengan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *