Memaknai Ilmu Pantun

“Setiap yang kita lakukan itu tidak berhenti di salah satu titik, melainkan pasti ada kelanjutan-kelanjutan. Kelanjutan itu, sambungan itu, waktu dan seperti apa, sangat tergantung dengan pencapaian, ketelitian, kejelian seseorang. Jamaah harus mampu mengamalkan filosofi dari pantun, ilmu padi yang pengertian pribahasanya sudah akrab di tengah-tengah kita. Yakni, semakin berisi semakin menunduk.”

Awak musik Jamus Kalimasada ketika membawakan lagu Pantun Pinuntun.

MALAM minggu yang cerah menandai digelarnya Maiyah Dusun Ambengan edisi ke-27. Dimana pada edisi kali ini, mendedah sebuah tema yang unik, yakni Pantun Pinuntun.

Seperti biasa, kopi dan jajanan khas perdesaan buatan ibu-ibu penggiat dan lingkungan sekitar, sudah siap sedia, menemani para jamaah yang mulai duduk melingkar tepat setelah shalat Isya. Sebagaimana edisi-edisi sebelumnya, acara diawali dengan tartil Al Quran yang dipimpin oleh Kang Darmin dan Mas Saif.

Sekitar satu jam mengaji dan membaca tahlil, acara dilanjutkan dengan bedah tema. Pak Cipto, Pak sulis dan Pak Narto bergantian memberikan pengantar, termasuk berbagi argumen dari sudut pandang masing-masing tentang makna Pantun Pinuntun.

Mas Kendar, ketika mengungkapkan pendapatnya tentang makna Pantun Pinuntun.

Banyak arti dan pemahaman yang bisa diambil dari kata Pantun Pinuntun itu sendiri, tidak hanya diambil dari satu sudut pandang secara etimologi, akan tetapi dari berbagai arah dan pemahaman yang berbeda-beda. Acara mendedah tema kali ini semakin seru dengan adanya saur manuk, berbalas pantun antarjamaah yang dengan dengan kepiawaian masing-masing, secara spontan membuat pantun, suasana semakin ramai dan hangat.

Pukul 22.00 WIB, Cak Sul naik ke panggung, memulai inti acara dengan membersamai para jamaah. Membuka kehangatan, diiringi group Jamus Kalimasada, Cak Sul membawakan tembang Pantun Pinuntun ciptaan Rhoma Irama.

Cak Sul juga mengapresiasai para jamaah yang sudah turut aktif mendedah tema. Kemudian menjelaskan, setiap yang kita lakukan itu tidak berhenti di salah satu titik, melainkan pasti ada kelanjutan-kelanjutan. Sambungan itu, waktu dan seperti apa sangat tergantung dengan pencapaian, ketelitian, kejelian seseorang. Jamaah harus mampu mengamalkan filosofi dari pantun, ilmu padi yang pengertian pribahasanya sudah akrab di tengah-tengah kita. Yakni, semakin berisi semakin menunduk.

“Filosofi padi yang semakin berisi semakin menunduk, harus benar-benar kita terapkan dalam banyak lini kehidupan,” kata Cak Sul. Lanjut dia, jangan sampai kita terjebak pandangan fatamorgana, terjebak penilaian yang hanya terlihat, ilmu dan fakta-fakta kehidupan yang tidak terlihat, jauh lebih banyak dan mesti diwaspadai dengan sepenuh-penuhnya pemahaman tanpa titik itu.

Turut membersamai jamaah, Mas Ibrahim. Beliau menyoroti tema Pantun yang menurutnya, seperti ilmu Maiyah. Zigzag yang pada baris pertama itu kiasan, akan tetapi yang paling penting adalah baris isi, tujuan dari pantun itu sendiri.

Majelis Maiyah Dusun Ambengan semakin malam kian menarik, terutama ketika saat Mas Budi dan Mas Baha juga turut mengelaborasi tema serta menyumbangkan pemikiran-pemikirannya. Termasuk kehadiran rombongan teman-teman yang pernah bekerja di Malaysia, yang tergabung dalam SBMI eks Malaysia itu juga berbagi pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya.

Forum kali ini, menurut Cak Sul, pada intinya, kita sebagai manusia terutama yang tinggal di perdesaan itu, jangan sampai jadi orang yang mudah gumun, mudah terpengaruh dan mudah tertipu zaman yang memang penuh tipudaya ini. “Kita harus cermat mengambil posisi, presisi dalam bersikap agar tidak diperbudak oleh dunia. Dan yang paling penting, kita jangan sampai menjadi sebab dari kerusakan di dunia ini.”

Tidak terasa sudah sampai pukul 01.00 dini hari. Acara ditutup dengan shalawat, salam-salaman antarjamaah dan dipungkasi makan saur bersama yang sudah disiapkan ibu-ibu penggiat Maiyah Dusun Ambengan.(ari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *