Mbok-mbok(an)

KULTUR masyarakat desa, seringkali memanggil Ibu dengan kata Mbok atau Simbok. Panggilan akrab yang mengesankan kedekatan antara seorang anak dengan ibunya. Bahkan, pada hubungan tertentu, dipilihnya panggilan Mbok, disematkan khusus, lambang untuk menghormati perempuan yang lebih sepuh. Ungkapan mampu mengemong dan paripurnanya kasih sayang seorang perempuan pada semua orang, semua makhluk dan semacam pengetahuan yang mampu menggendong apa pun demi kebaikan dan kemaslahatan.

Pasca pemasangan poster tema Maiyah Dusun Ambengan di perempatan desa.

Mbok, pada level tertentu juga menjadi diksi untuk (maaf) sedikit merendahkan kelas sosial khususnya bagi perempuan desa. Yakni, bisa dibuktikan kalau tidak ada perempuan karier yang moncer dari sisi bisnis maupun ekonomi kemudian di lingkungannya dipanggil, Mbok. Berbeda dengan perempuan yang berprofesi sebagai pedagang sayur di pasar rakyat, pemilik warung pecel atau bahkan, para buruh perempuan di bidang pertanian. Mbok adalah wujud panggilan perempuan yang seolah punya kesan berbeda dengan sebutan Mami, Mama, Bunda atau bahkan, Ummi.

Mbok, meski makna dasarnya adalah Ibu, kata Mbok-mbokan berbeda artinya dengan defenisi “keibuan”.

Kearifan masyarakat desa, menyematkan sifat manja dan “panjang harapan” seorang anak, tentu saja disertai nada mengejek dengan menyebutnya, anak yang masih Mbok-mbokan. Pada ujaran yang lebih membumi, Mbok-mbokan kemudian bertransformasi menjadi harapan-harapan tanpa disertai ikhtiar. Sebatas kepasrahan dan bentuk keputusasaan absolut.

Kata Mbok-mbokan adalah pelecut semangat berusaha tersendiri bagi seorang anak agar mampu membuktikan bahwa setiap harapan, butuh usaha, perjuangan dan semangat untuk mewujudkannya. Mbok lebih berarti positif, sebaliknya, Mbok-mbokan konotasinya negatif. Mbok-mbokan lebih pada ekspektasi yang bukan berarti dilarang, melainkan sekadar upaya pengingat kalau setiap kemapanan, luapan kasih sayang dari Ibu seringkali membuat kita kurang mawas diri bahwa substansi kehidupan tidak mesti sesuai dengan keinginan.

Pengharapan, sekeras dan sekuat apa pun perjuangan, butuh standar capaian yang sesuai kemampuan dan kepantasan kita untuk menerimanya. Pada ranah ini kemudian, kita kenal ajaran syukur, ikhtiar, tawakal dan kemukminan sebagai puncak keberislaman.

Mbok adalah tiang sebuah bangsa, rusak dan baiknya sebuah tata tertib kemasyarakatan bisa dilihat dari prilaku kaum ibu. Suatu komunitas, dusun, desa atau daerah ketika sudah tidak ada lagi yang dipanggil Mbok menjadi sebuah pertanda “hilangnya” bentuk pengakuan kolektif tentang adanya seorang ibu yang menebar kasih sayang, gendongan kaum perempuan pada lingkungan. Pada kearifan, kebajikan dan tulusnya perhatian pada generasi muda.

Warga di perdesaan mengenal, hanya perempuan-perempuan tangguh dan pilihtanding yang bisa dipanggil Simbok. Namun anak yang dianggap Mbok-mbokan, berada pada koordinat sebaliknya. Lemah, kurang teguh dan gigih ketika berjuang mewujudkan cita-citanya.

Jika dikaitkan pada vokabuler yang karib diucapkan warga dusun, pesimisme itu untuk kata Mbok-mbokan. Sementara optimisme berada pada kosakata moga-moga(semoga). Semuanya, memang kemudian berujung dengan ucapan yang lebih tertunduk, kersane ngalah dan nrimo ingpandhum.

Diambilnya tema Mbok-mbokan dalam kajian Maiyah Dusun Ambengan edisi ke-30 ini, lebih untuk mengambil dimensi yang lebih dekat dengan budaya tutur warga desa. Diksi Mbok, tentu tidak muncul secara tiba-tiba. Melainkan pasti melintasi berbagai zaman untuk tetap lestari atau tersingkir dengan sebutan-sebutan yang lebih bergaya Inggris seperti, Mom.

Hampir dipastikan, sudah tidak ada seorang ibu muda di dusun sekali pun yang saat ini dipanggi, Mbok. Lebih lanjut, mungkin semakin sedikit perempuan sepuh yang disebut Mbok. Pertanyaannya, apakah ini lambang kemajuan? Bagaimana tanggapan warga desa?

Bahwa kita tak boleh secara serampangan membuat pengadilan atas salah atau benar sebuah fenomena. Apalagi terkait peristiwa sosial budaya. Namun majelis Maiyah Dusun Ambengan menganggap layak mengangkat term Mbok-mbokan sebagai ajang muhasabah sekaligus menguri-uri budaya. Jangan-jangan inferioritas dan kebanggan sebagai warga desa mulai hilang karena kita kurang memahami superioritas dan kekayaan khasanah budaya kita sendiri?

Mari melingkar, sinau dan bergembira bersama. Di Rumah Hati Lampung, Minggu, 18 Februari 2018 jam 19.30 di Dusun Empat, Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *