LA TAI’ASU MIN RAUHILLAH

Bayangkan dalam sebuah lomba lari maraton. Diperlombaan yang mengharamkan peserta berhenti istirahat sepanjang lomba tersebut, bagi peserta sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, kemungkinan besarnya bisa sampai garis finish. Sedangkan peserta yang kurang maksimal persiapannya, oleh berbagai sebab, entah karena kram, kecapekan, ataupun daya tahan tubuh yang sudah diluar ambang batas kekuatannya, terpaksa gagal melanjutkan perlombaan.

Perumpamaan di atas bisa menggambarkan permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari yang serba kompleks. Tak jarang persaingan yang kejam dimana kepentingan pribadi diutamakan, uang dituhankan. Cara haram dan lalim ditolerir dalam mencapai tujuan. Saling tipu, saling menikam dan memakan sesama manusia merupakan pandangan sehari-hari. Kelicikan dan kekejaman merupakan perbuatan yang seolah dibenarkan.

Hidup seolah sudah menjadi beban tersendiri bagi masyarakat modern, Ada yang mampu menahan beban tersebut dalam waktu yang lama, namun tidak sedikit yang tidak mampu menanggung beban, berputus asa, sehingga bagi yang kosong imannya bahkan ada yang mengakhiri hidup dengan jalan sesat.

Dalam QS Yusuf (12): 87, Allah SWT mengisahkan nasihat nabiyullah Yaqub AS kepada anak-anaknya: _Wala tai asu mirraukhillah. Innahu la yai asu mirraukhillah illal qoumul kafiruuna_ (dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir).

Berputus asa bukanlah karakter orang-orang yang beriman, dan sebaliknya adalah merupakan tanda kekafiran. Mengingkari dan atau tidak mempercayai adanya pertolongan Allah SWT.

Tidak ada seorangpun yang terbebas dari permasalahan di dalam hidupnya, terlepas kecil maupun besar masalah tersebut. Bagaimana penyikapan terhadap masalah, adalah pembedanya.

Bukankah allah SWT dalam surat Al Baqarah (153) Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Keutamaan yang banyak akan didapatkan manusia apabila mampu menghadapi permasalahan dengan sabar dan tidak berputus asa.

Fungsi kekhalifahan dan sebagai agen kebaikan kepada alam semesta, meniscayakan manusia untuk senantiasa mencantelkan dirinya kepada Allah SWT. Bukankah rezeki, jodoh, dan maut itu sudah ditetapkan dan dituliskan sebelum kita hadir di dunia ini? Intinya ialah dengan terus berusaha menebar virus kebaikan disertai tidak berputus asa dari rahmat Alllah, tidak melanggar dan merampas hak-hak orang lain untuk kepentingan pribadi, menuruti takdir maupun sedemikian rupa berkreativitas menciptakan keseimbangan.

Seperti kata Mbah Nun bahwa “Ringkas saja. Hidup ini tidak usah terlalu engkau rencanakan. Kalau hatimu isinya niat baik, niat baik, niat baik, insyaallah jadi”.

_Innallaha laa yughayyiru maabikamin hatta yughayyiru maa bianfusihim_ dan juga _wa ilaa robbika faarghab_

kita sinaui bersama sebagai titian jalan keseimbangan.
Dengan hati lapang, dan pikiran jernih mari kita melingkar bersama dalam Majelis Ilmu – Sinau dan Bergembira Bersama Maiyah Dusun Ambengan, pada hari Sabtu 18 Mei 2018 Jam 20.00 WIB di Rumah Hati Lampung Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *