KEPADA TUHAN BERPURA-PURA

#Percikan Cinta Cak Sul

Persangkaan orang lain atas dirimu jangan sampai mendominasi perasaan dan rasamu atas dirimu sendiri. Karena engkau wajib lebih tahu dirimu ketimbang orang lain mengenalmu. Maka engkau harus berkeras usaha mendidik, melatih dan yakin memperjuangkan kemuliaan hidup dan kebahagiaan masa depan, tanpa bergantung pada orang lain mengetukkan palu takdir atasmu.

Benar saja, engkau seorang profesional. Sekolahmu tinggi, kariermu menjulang, prestasi kerjamu moncer berkelas. Tapi memang engkau masih butuh cantelan. Masih butuh kayu penopang, butuh koneksi-koneksi, bahkan mungkin sedikit kolusi, agar hidupmu bisa lebih terjamin, aman, mapan dan nyaman. Tapi ingat, itu semua jangan sampai menjadikan dirimu memble tak bernilai.

Misalnya, kemudian engkau tidak yakin bahwa cabe itu pedas, tahi kucing itu kecut, dan kursi yang engkau duduki itu benar-benar empuk. Engkaupun berprasangka. Diam-diam engkau gelap mata, mencurigai setiap benda. Bahkan meragukan Iblis sebagai makhluk penggoda dan  mencurigai kebenaran Tuhan sebagai pemberi rejeki dan karunia.

Lantas engkau berjalan dengan kaki mengambang antara tanah dan udara. Akal pikiranmu bekerja mengawang-awang di lintasan cakrawala. Tubuhmu bermandi fatamorgana. Dirimu sirna di balik ketiak regim penguasa – yang kepadanya engkau pasrahkan batang leher dan kepala.

Betapa kecemasan yang paling sangat menghantui manusia adalah  kemiskinan. Rasa-rasanya setiap orang pasti mengaminkannya.

Betapa setiap negara didirikan, setiap pemerintahan diselenggerakan, setiap kepemimpinan baru ditegakkan, setiap wilayah-wilayah daerah dimekarkan, kesemuanya dii’tikadkan untuk  memerangi kemiskinan sampai ke akar-akarnya.

Rasa-rasanya hanya Rasulullah SAW saja yang secara ksatria dan terang-terangan kepada Allah, meminta “miskin” hidupnya. Padahal ia seorang utusan Allah, seorang kepala negara, seorang pemimpin ummat.

Padahal jika mau, Allah menjamin kesejahteraan unlimitide kepada kekasih-Nya itu.  Tetapi tidak bagi kanjeng nabi, beliau tetap memilih hidup “lara lapa”.

Perilaku dan keteladanan hidup Rasulullah, nyatanya tidak dapat diarifi oleh umat manusia yang hidup di belakang beliau sampai dengan zaman setua ini. Tidak sebagaimana Rasulullah yang total bergantung dan bertawakal kepada Allah azza wa jalla, melainkan jamaknya manusia terjebak dalam ambiusitas, kepasrahannya kepada Tuhan pun berpura-pura. *

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *