Kala Bedak

ZAMAN dimana, siapa dan bagaimana penampilan yang berbicara lebih penting dibanding apa intisari dari isi pembicaraan. Era dimana wajah asli bisa ditutup dengan kepalsuan. Kala dimana topeng dipakai bukan sebagai media menyamar, melainkan untuk berganti wajah. Term di Maiyah, seringkali disebut bahayanya “talbis” iblis yang jauh lebih sempurna sebagai bentuk lain untuk menipu.

Metoda talbis, kita ketahui jauh lebih sulit dikenali sebagai lawan dibanding setan yang langsung memberi perlawanan. Garis yang secara tegas untuk berhadapan bahwa ini jalan setan, yang ini jalan malaikat? Dihapus oleh cara-cara talbis.

Bedak, dimana pada posisi paling sederhana, menutupi wajah kusam agar terlihat putih dan yang bopeng tampak halus. Meski demikian, pada kadar tertentu, memakai bedak untuk berhias bisa jadi baik dan sah.

Zaman bedak adalah tafsir tentang potret, inilah masa dimana kamuflase mendapat tempat untuk semakin kokoh menapakkan diri. Langgeng dan terkadang, justru menjadi yang orisinal. Kepalsuan dalam segala hal, seolah bagian dari kebutuhan hidup.

Secara laten, di luar kesadaran, zaman bedak itu telah menyeret kehidupan kita pada kebohongan-kebohongan yang terus diproduksi.

Di sinilah era ketika anak-anak muda mengalami “Amenangi Zaman Now” (tema Kenduri Cinta, Jumat, 12 Januari 2018 lalu) yang sudah dikelupas maknanya dan tata cara mengatasi agar hidup semakin menemukan kesejatiannya. Dinasehatkan Mbah Nun, agar semua manusia benar-benar mampu secara jernih melihat mana emas dan yang mana tinja? Mana loyang dan yang mana tembaga.

Wajah warga di perdesaan, nyaris tidak kenal operasi plastik atau wajah silikon. Sebab, kondisi dan lingkungan tak bisa berkompromi dengan hidung yang dimancungkan jika empunya wajah mesti berada di ruang sejuk berpendingin tanpa debu. Alis yang dikerok, lalu digoret bulan sabit bagaimana pun, tidak bisa untuk buruh tandur. Lelaki yang hidungnya ditindik, akan kesulitan jika mesti menjalankan traktor atau sapi untuk meluku sawah. Akan tetapi, semua warga kenal dengan bedak. Satu-satunya kosmetik yang ditaburkan diwajah untuk menutup kulit kusam yang pada batas-batas tertentu, mampu mengubahnya jadi lebih putih. Namun demikian, hukum tak tertulis dari warga desa, bedak yang dipakai harus sesuai kebutuhan. Tidak boleh berlebihan. Sebab, seseorang akan disebut medok-medok, mirip penthol. Bahkan jika laki-laki memakai bedak, hanya akan menambah olok-olok untuk menegaskan, bakal main jaranan dimana?

Bahkan jika laki-laki memakai bedak, hanya akan menambah olok-olok untuk menegaskan, bakal main jaranan dimana?

Zaman bedak dijadikan tema sebagai usaha mencari hikmah dari pengertian talbis, kamuflase, dan atau era pencitraan diri yang sekarang mulai akrab dan jadi trend agar kita semakin menemukan kedaulatan diri sebagai hamba Allah. Usaha memantas-mantaskan diri, tidak mesti mengorbankan substansi nilai keaslian dan melampaui keberadaan. Hidup apa adanya, bagaimana pun jauh lebih membahagiakan dibanding selalu mencari kehidupan yang ada apanya.

Maiyah Dusun Ambengan sebagai bagian organisme Maiyah, simpul dari jamaah yang tidak terlembagakan sebagai institusi atau organisasi namun memiliki piagam kepatuhan, adab dan tata nilai yang selalu dipegang teguh untuk semakin menemukan sumber kehidupan yang sejati. Agar menjalankan hidup berdasar pedoman yang langsung bersumber dari Allah Swt. Mentauladani kehidupan Nabi Muhammad Saw. Menjadikan tata cara keselamatan dan rahmat bagi semesta di setiap lelaku kehidupan. Agar semuanya menjadi jernih, mana baju dan yang mana tubuh. Mana warna kulit dan yang mana bagian dari kosmetik.

Tema Zaman Bedak adalah usaha untuk selalu mawas diri, agar waktu yang tajam dan sangat cepat memberikan perubahan, tidak ikut mengubah jiwa dan nalar kemanusiaan kita.

Mari melingkar, saling nasehat menasehati dalam kesabaran dan kebenaran. Sinau dan bergembira bersama di Rumah Hati Lampung, Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur pada Sabtu, 20 Januari 2018; Jam 19.30 WIB dengan pembicara, Syeh Mustafa Mas’ud dari Yogyakarta. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *