Hom Pim Pah

PERMAINAN anak-anak di perdesaan, yang butuh kekompakan, kekuatan fisik, kecerdasan motorik, dan berbagai asah talenta, secara pelan, mulai hilang. Berganti dengan aneka mainan berbasis tekhnologi yang condong membuat anak jadi penyendiri, asyik dengan diri sendiri. Lebih jauh, sampai pada level asosial dan mirip anak-anak autis yang sibuk dengan permainan pikirannya.

Meski ada anak-anak yang berkelompok, di desa-desa mulai jarang berbagai dolanan model gobak sodor, bentengan, licinan, atau sekadar bermain wayang atau gundu. Banyak di antaranya justru sibuk bermain game di aplikasi Android.

Majelis Maiyah Dusun Ambengan, mendedah tema sebagaimana yang dinasehatkan Cak Dil. “Mencari apa yang sudah hilang di desa kita.”

Pemasangan poster Hom Pim Pah di Perempatan Desa.

Reboan sebagai pendedar term dan epistemologi, mulai menjadi ajang nostalgia untuk mengingatkan generasi milenial dan generasi Y serta generasi Z. Tentang apa itu aneka permainan kanak-kanak, yang meriah, butuh kebersamaan, kerja tim dan berbagai kemampuan olah fisik.

Pemasangan poster Hom Pim Pah di perempatan Desa Margototo.

Salah satunya, ucapan yang masif diketahui semua anak-anak adalah “hom pim pah.” Metoda berhitung untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang menjadi kucing dan siapa yang menjadi tikus, siapa yang berhak jaga, dan siapa yang harus sembunyi.

Hom pim pah adalah cara mengundi kehidupan untuk menemukan diri berdasarkan pilihan. Dimana pada setiap pilihan, punya konsekwensi kehidupan. Dalam batas-batas tertentu, harus siap kalah dan siap menang. Menerima hukum dan patuh aturan adalah prasyarat berjalannya permainan. Kegembiraan hadir, bukan pada pilihan sebagai pemenang atau kalah dalam permainan. Namun pada proses tegaknya aturan. Sehingga, yang kalah dan yang menang, pada akhirnya menjalani takdir hidupnya dengan bahagia.

Secara etimologi bahkan, hom pim pah memiliki makna yang sangat religius. Yakni, hom pim pah (hiduplah berdasarkan) alaihum gambreng (ketetapan yang menggembirakan). Secara terminologi dan keterkaitan dalam kajian-kajian keagamaan, mari kita diskusikan bersama.

Kita merasa kesulitan, kenapa anak-anak mengawali permainan bolak-balik telapak tangan itu, jadi simbol sekaligus tanda dimulainya permainan sembari bersama-sama melantunkan tembang; “hom pim pah.”

Pada ranah inilah, majelis Dusun Ambengan mulai mencari akar kegembiraan anak-anak untuk belajar tentang makna kehidupan dengan memulai menghadirkan yang telah hilang dari kehidupan desa. Mari melingkar, gembira dan sinau bersama di majelis Maiyah Dusun Ambengan, bertempat di Rumah Hati Lampung, Sabtu, 14 Oktober 2017. Jam 19.00 WIB.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *