FI’IL FRESH

Suku Lampung adalah salah satu suku yang memiliki adab tinggi. Dari segi bahasa, suku Lampung memiliki aksara tersendiri. Bentuk dan bunyinya otentik.

Masyarakat ujung selatan pulau Sumatera inipun memiliki tradisi arsitek, seni sastra, filosofi hidup yang luhur. Dalam hal moral, masyarakat Lampung memiliki Fi’il Pesengiri.

Fi’il Pesengiri adalah pedoman hidup dalam bersikap dan berperilaku. Filosofi ini memiliki makna yang dalam, berkaitan hubungan vertikal dan horisontal seorang manusia. Sikap habluminannas dan habluminallah.

Belum lagi masih ada sakai sambayan, nemui nyimah, nengah nyappur, atau bejuluk beadek. Kebijaksanaan – kebijaksanaan tersebut telah mencerminkan karakter kemanusiaan level tinggi. Masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi kebersihan dan kejujuran.

Dalam masyarakat Jawa, suatu martabat akan dijunjung setinggi mungkin. Banyak pujangga telah merangkai intisari jiwa manusia ke dalam sebuah persamaan kata. Seperti Aja Adigang, Adigung, Adiguna. Memayu hayuning bawono, ambrasto dur angkoro. Atau nrimo ing pandum.

Begitupun dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Bangsa-bangsa di dalamnya, jika tetap otentik dengan karakter moral dan intelektualnya, akan tetap fresh memandang jalan kembali kepada-Nya.

Manusia yang fresh selalu memandang jernih segala sesuatu. Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Racun ya jangan diminum, setan jangan dimalaikat-malaikatan, manusia jangan dihewan-hewankan.

Aturan main hidup ini jika dikatakan adalah dua kata saja. Hiduplah sebagaimana adanya dan sebagaimana mestinya. Anda manusiakah? Kumbang? Logam? Atau golongan setan?

Jika kita sudah mengetahui bahwa saya adalah manusia, Tuhan telah memberikan rute, pedoman dan Rasulullah untuk menjadikan arah kita semestinya harus bagaimana.

Kalau istilah Mbah Nun, minimal yang harus kkta lakukan adalah : Jadilah manusia Mekkah. Cukuplah jadi hamba yang berharap agar tidak dimurkai Gusti Allah. Maksudnya, manusia yang manusia, bukan hayawan, harus bisa mengendalikan hasrat materialnya. Dengan seperti itu, manusia menjadi makhluk yang berdaulat. Pulang kembali dari sesuatu menuju sesuatu.

Mari duduk melingkar dalam Majelis Ilmu – Sinau dan Bergembira Bersama *Maiyah Dusun Ambengan, di Rumah Hati Lampung Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, Sabtu, 13 April 2019, jam 20.00 WIB.*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *