Dijajah atau Memang Lemah?

Dijajah atau Memang Lemah? Ini bukanlah urusan jajah-menjajah antar negara, suku atau kelompok apapun. Tidak juga merembet ke simpul ekonomi dan politik. Ini adalah soal jiwa. Terserah apapun definisi dan tafsir tentang jiwa, yang pasti, jiwa itu ada dan nyata. Jiwa bukan lah identitas suatu negara, suku atau kelompok tertentu, yang bisa ditinggal atau dikenakan seperti baju, ia adalah personalitas esensial seorang manusia yang melekat dan me-manunggal. Tanpa identitas apapun, ia ada. Celakanya, penjajah sedang mengancam kebaikan, kebenaran dan kemuliannya. Sejak manusia pertama hingga kini.

 
Mula-mula, beberapa pertanyaannya perlu diajukan untuk mengusik atau mengetuk pintu si pengetahuan yang sedang bertamasya dalam halusinasi kematerialan. Agar nanti si pengetahuan sadar, kemudian sowan ke rumah jiwa untuk membantu reresik sampah-sampah dan puing yang menutupi kedigdayaannya. Setidaknya, si pengetahuan harus memijit tombol on terlebih dahulu.

 
Si pengetahuan harus disangoni pertanyaan ini : Mengapa antar manusia masih saja ada, kompetisi miskin kaya, tanding kejayaan, monopoli stabilitas kehidupan, dagang dan investasi ketakutan, membaca kitab suci di meja perjudian, membuat obat berisi racun mematikan. Kemudian, kemerdekaan itu suatu kenyataan atau hanya sekadar pernyataan? Jika kenyataan, kok sama-sama manusia saling mengusik, sikut-menyikut, tipu menipu untuk menjadi pemenang di dunia. Dan, dalam sebuah pelayaran, kemanakah sebenarnya manusia sejatinya berlabuh.

 
Si pengetahuan harus menjadi starting untuk kemudian dipuncaki si jiwa. Setelahnya, si jiwa harus mendapatkan jiwa kemanusiaannya. Karena, tunduk takluk adalah urusan kebebasan, dan sejatinya kebebasan adalah kemampuan jiwa untuk berkehendak sesuai dengan fitrah ke-manusia-an. Yang dengannya, pelayaran akan mendapatkan rute pelabuhan.

 
Ketika si pengetahuan memijit tombol on, dan si jiwa telah resik dari sampah kejahilan dan puing kedengkian, seberapa dalam jangkauannya jiwa mendapatkan inti kemerdekaan, seketika itu pula, tak akan berpengaruh sekuat apapun determinasi memasungnya. Tidaklah penjara akan mengubah kemerdekaan jiwa Nabi Yusuf, juga kemiskinannya Nabi Ayub, atau Nabiyyil Ummiyyi. Beliau-Beliau tetaplah merdeka jiwa kemanusiaannya, dan telah berlabuh di sebuah pelabuhan keabadian.

 
Pakde Juleman pernah berkata, “Sebenarnya, penjajahan itu dilakukan oleh diri kepada dirinya sendiri. Oleh hasrat yang terkandung pada setiap aliran dan getaran makhluk bernama manusia. Andaikan ada manusia lain menjajah seseorang lain apakah dimungkinkan? Apakah terjajah adalah terkurungnya badan dalam sel, atau terborgol kedua tangan dan kaki, atau tertutupnya kehendak jiwa untuk menyelami kedalaman dan sumbu kemanusiaanya? Tentu tidak.”

Jefrei Kurniadi
20 September 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *