DENDANG KUASA

Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
-R.M.P Sosrokartono-

Apakah “Sugih tanpo bondo” dapat dipahami dengan logika material modern? Apakah sistem politik era industri ke- 4 dapat memahami “digdoyo tanpo aji”? Apakah “Trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih,” menjadi prinsip hidup manusia generasi renaisans?

Jika penciptaan manusia bukanlah suatu perbuatan sia-sia, maka perbuatan tersebut pasti memiliki tujuan. Jika tujuan telah ditetapkan, segala instrumen dan perangkatnya juga telah disediakan. Karena, menjadi kemustahilan bahwa suatu perintah tidak dibarengi dengan perangkat pelaksananya. Rute, guide leader, kendaraan, logistik, dan kemampuan diri untuk mengelola, menjadi bagian yang tak terpisahkan pada tugas mencapai tujuan hidup manusia.

Untuk itu, makhluk bernama manusia, diberikan semacam “kekuatan” agar mampu melakukan perbuatan-perbuatan. Kekuatan ini menjadi bagian tak terpisahkan pada diri manusia, yakni hasrat. Hasrat adalah semacam daya dorong, semangat, motif, atau kehendak. Seperti hasrat seksual, kekayaan, kepintaran akan ilmu pengetahuan, dan keindahan-keindahan rasa. Hulu semua hasrat tersebut adalah pada penguasaan. Namun, karakter penguasaan ini jika tidak dikelola, akan membunuh pawangnya sendiri, jiwa dan alam raya.

Contohnya : Apakah Jeff Bezos berani menghentikan penambahan kepemilikan hartanya 1.500-an triliun itu, atau masih akan terus menambah dan menambah lagi? Apakah harta sebanyak itu dapat menghentikan hasrat Bezos untuk mencari kekayaan? Tentu tidak. Kepemilikan atas satu juta, akan meningkatkan hasrat memiliki 2 juta. Jika hal itu terus begitu, segala daya upaya akan dilakukan tanpa batas, kepada apa dan siapa saja.

Karena manusia memiliki karakter sebagai penguasa, ia memang diciptakan melebihi semua makhluk yang ada. Ia ditugaskan menjadi khalifah di muka bumi, untuk hidup dan mengelola dunia ini, tidak dengan manipulasi, monopoli, ataupun cara-cara keji. Maka itu, ‘Kuasa’ pada diri manusia harus dikelola, sehingga tidak terjadi tabrakan-tabrakan dalam realita antara hasrat yang satu dengan yang lain dan dunia ini tetap berjalan sebagaimana adanya.

Sehingga, segala upaya yang dilakukan harus memandang bahwa ‘sing penting Gusti Allah ojo murko’.Segala pengorbanan dan perjuangan pasti diarahkan kesana. Lantas, bagaimana cara manusia men-DENDANG-kan KUASA miliknya di hamparan dunia ini agar mencapai tujuan dimaksud? Menjadi Umatan Wasathon, pengikut Muhammad SAW yang sejati.

Mari melingkar, sinau dan bergembira bersama di Maiyah Dusun Ambengan yang bertempat di Rumah Hati Lampung, Dusun IV Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur. Pada Sabtu, 15 September 2018, Jam 19.30 WIB.
#MASept #MaiyahAmbengan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *