Dangdut My Country

SIAPA yang tidak kenal dengan aliran musik dangdut? Di tengah masyarakat desa, dangdut sebagai seni musik sekaligus pertunjukkan mendapat tempat yang istimewa. Tidak seperti aliran Jazz atau Rock yang bisa dikategorikan “tertolak”. Dangdut berterima secara total. Bahkan, meski lyrik dan lagunya bernada cabul, penuh sindiran ke arah mesum, meratap-ratap dan mengutuk kehinaan diri atau yang beraroma nasehat sebagaimana lagu-lagunya Rhoma Irama.

Kiai Kanjeng bahkan menempatkan aliran ini sebagai dedikasi untuk mengejawantahkan cinta yang “bla bla bla” dan atau lagu yang diberi judul “Sayang Padaku”.

Lyrik musik dangdut selalu identik ketika bilang cinta dan sayang disematkan untuk lawan jenis, oleh Kiai Kanjeng didekonstruksi. Tepatnya, diposisikan pada tempat yang semestinya. Bahwa cinta mesti diberikan pada yang layaknya dicintai.

Bukan persoalan sederhana ketika bicara aliran musik. Terutama tentang mencari jawaban, kenapa dangdut lebih berterima di perdesaan dibanding aliran musik lain. Lantas berkembang dengan berbagai varian yang mengadopsi kelompok-kelompok orkes pengembangan dari cengkok dangdut, berikut tetabuhan khas yang dimilikinya.

Pengembangan era “Nada dan Dakwah” misalnya, tak terpisahkan dari tembang beraliran dangdut. Namun sebaliknya, tradisi sawer di pentas Organ Tunggal juga, menjadikan dangdut sebagai media pengumbar syahwat. Menjadikan biduan sebagai obyek getaran.

Musik melayu deli, berkembang dengan asimiliasi dan sentuhan-sentuhan India. Dangdut sudah diterima dimana-mana. Dangdut yang pernah distempel sebagai musik kampungan, ternyata mampu tampil di pusat-pusat perkotaan. Bisa jadi akibat kota yang rindu kampung atau akibat goyang dari dangdut itu sendiri. Bahkan bisa disebut, aliran blues dan rock, dilekuk untuk memperkuat irama dangdut. Ini bisa dilihat dari lagu-lagu yang digubah Rhoma Irama.

Dangdut, menurut Cak Nun harus diperluas. Supaya tidak sekadar untuk asyik-asyik di ranah sensual dan seksual.

Kiai Kanjeng dan Cak Nun pernah mengulas secara komprehensif soal dangdut ini. Termasuk menelurkan tembang-tembang dangdut yang berlyrik dan bersyair penuh kedalaman serta permenungan. Tembang berjudul “Cakrawala” dan “Janah” misalnya. Bahkan, getaran dangdut yang menjadikan wanita atau biduan sebagai obyek. Diarahkan agar “wajilat qulubuhum.”

Dangdut pada dimensi kemasyarakatan, bahkan sering dinilai miring dan dianggap suara setan. Akan tetapi, musik adalah fakta seni yang menggerakkan. Nah, pada sisi gerak inilah kita layak memperbincangkan. Goyang untuk apa dan bagaimana?

Pada lagu berjudul “Semaumu” ada sebuah pendalaman atas apa itu goyang dalam ayunan tembang dan alunan dangdut.

Di tengah masyarakat desa, ketika “hajatan” sejak era 80-an sampai sekarang, dangdut menjadi tanggapan yang paling bergengsi. Terus bermetamorfosis, masyarakat dimulai dari menanggap kaset, video, orkes, sampai kemudian dalam formula yang lebih sederhana yaitu menanggap Organ Tunggal. Apakah itu salah? Apakah itu sesat? Majelis Maiyah Dusun Ambengan bukan dalam rangka menilai sesuatu dalam kaidah hukum fikih dan memberi penilaian atas laku salah benar, apalagi itu terkait kesenian dan kebudayaan. Melainkan sebatas mentadaburi semua hal, mengkaji semua fenomena di tengah masyarakat desa.

Tujuannya, murni sebatas untuk mencari apa itu kebenaran dan apa itu kesalahan. Bukan untuk memberi hukum atas peristiwa bahwa ini salah itu benar, itu salah ini benar.

Konteks berkesenian dan berkebudayaan, tidak mensyaratkan hukum murni dan campuran. Melainkan perkembangan yang sejalan dengan akal budi manusia berkeadaban. Misalnya kenapa lyrik lagu yang dengan bangga menceritakan karena cinta berujung “kuhamil duluan, sudah tiga bulan…” lebih populer dibanding “cinta bla bla bla” (?)

Diskusi ini akan menarik sebab, potret masyarakat Pantura misalnya, mampu memborbardir lagu-lagu yang dianggap kekinian dan mampu melahirkan group-group orkes dangdut yang memandu arah berhibur masyarakat di perdesaan. Bagaimana kiprah kelompok-kelompok kesenian di pondok pesantren sebagai pendulum hiburan sekaligus dakwah? Apakah larut, ikut trend orkes dari Pantura atau menciptakan gelombang berkesenian yang baru?

Mari melingkar, sinau dan bergembira bersama di Rumah Hati Lampung. Majelis Maiyah Dusun Ambengan yang rutin digelar setiap bulan. Sabtu, 15 April 2017 jam 19.30 WIB. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *