Cancut Taliwondo

DI TENGAH kehidupan masyarakat desa, kita sering mempergunakan bahasa kiasan, unen-unen, sanipan, atau pitutur yang sifatnya perkataan halus.

Dimaksudkan agar tidak menyinggung orang yang dituju ketika mengritik.

Kata-kata sanipan misalnya, digunakan sebagai sarana untuk mempermudah membahasakan suatu keadaan yang terjadi dengan gambaran di luar konteks. Bahkan, sindiran maupun hal-hal yang bertolak belakang dengan fakta sebenarnya atau bersifat paradoks, seringkali dengan sanipan atau diucapkan sebagai pasemon yang perlu penalaran tersendiri untuk mengerti maksudnya.

Pada susastra yang banyak memakai sanipan, juga dikenal dengan istilah “tembung aduporo”. Sanipan yang sering kita dengar, yang sering diucapkan dan dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari orang tua kita dan orang-orang terdahulu sudah terdegradasi, mulai dilupakan dan ditinggalkan bahkan sebagian tidak dikenal lagi oleh anak zaman sekarang. Lebih familiar kemudian disebut, anak zaman now. Mereka yang terkesan lebih mementingkan dirinya sendiri, mengedepankan nafsu, menjadi manusia yang individualistik demi mengejar eksistensi kehidupan keduniawian sehingga mengikis nilai-nilai kerukunan, kebersamaan, kekompakan, toleransi dan silaturahmi.

Di perdesaan, berbagai kearifan lokal mulai tergerus oleh kosakata modern yang bukan saja bahasanya terganti, nilai-nilai kerukunan, gotong royong dan berbagai kesalehan sosial mulai langka.

Diambilnya tema “Cancut Taliwondo” dalam kajian Maiyah Dusun Ambengan edisi ke-31 kali ini, lebik pada kesadaran jamaah terutama penggiat untuk cancut, merawat, menguri-uri pelajaran hidup dari orang terdahulu bahwa esensi hidup kita yang bersandingan dengan segala keunikan dan keanekaragaman yang ada. Kita serasa merindukan era dimana kehidupan bermasyarakat penuh kerukuknan, guyub, tepa selira yang mengejawantah dalam aktivitas sehari-hari.

Cancut diartikan menyingsingkan lengan baju yang memcerminkan semangat untuk segera bergerak, bekerja, bersemangat jangan menyerah dengan apa pun meski keadaan terlihat kurang menguntungkan secara duniawi.

Sedangkan tali diartikan sebagai ikatan atau belenggu dan wondo adalah usaha untuk melepaskan.

Tema ini dimaksudkan untuk ajakan membebaskan diri dari belenggu pemikiran kebanyakan orang sekarang bahwa modernisasi adalah meninggalkan budaya dan tradisi yang sudah terbangun sejak zaman dulu. Seruan agar kita segera bangkit, berlari dari ikatan-ikatan yang paling mengungkung kehidupan untuk lebih berarti. Termasuk membebaskan diri dari kemalasan dan pikiran yang jumud.

Meski demikian, kita butuh ruang untuk mengeja setiap khasanah masa lalu dimana yang tetap berlaku bagi kehidupan tanpa melanggar kaidah dan norma-norma agama. Cancut Taliwondo adalah term yang hampir tidak dikenal lagi dalam pengucapan masyarakat desa. Banyak anak-anak muda juga tidak paham makna ketika seorang Ibu berseru “Cancut Taliwondo” ketika melihat tumpukan kerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan.

Mari melingkar, sinau dan bergembira bersama mengulas Cancut Taliwondo di Maiyah Dusun Ambengan yang bertempat di Rumah Hati Lampung, Dusun IV Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur. Pada Sabtu, 24 Maret 2018, Jam 19.30 WIB. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *