BUTA BATAS

“Demi keselamatan hidup manusia, Tuhan menentukan batas penglihatannya, pendengarannya, jasad maupun batinnya, pengetahuan dan ilmunya, kekuatan dan kesanggupannya, Allah Maha Penakar. Allah Maha Pakar Batas.” Emha Ainun Najib

Jika kita mencoba-coba memahami kata-kata di atas, hal itu membuktikan bahwa Sang Kholik dan si makhluk nyata perbedaannya. Sehebat-hebatnya manusia, ia hanyalah ciptaan, tak mungkin melampaui itu. Jadilah manusia yang sadar akan batas. karena manusia yang selamat adalah yang menyadari akan keterbatasannya.

Dalam sebuah permainan catur, setiap bidak mempunyai peran fungsi masing-masing. Gerak langkah setiapnya memiliki batas. Pion hanya melangkah maju satu kotak, benteng berjalan lurus, kuda berjalan menyerupai huruf L, mentri berjalan diagonal, ratu ke segala arah dalam garis lurus dan raja boleh melangkah kemana saja namun hanya satu kotak.

Permainan catur bila didedah lebih dalam lagi merupakan refleksi dari kehidupan sosial bermasyarakat kehidupan manusia. Dengan segala aturan dan batasan langkah di atas ekosistem catur, manusia dalam ruang lingkup itu, mempunyai peran dan fungsi masing-masing. Tidak bisa sebuah pion berjalan dengan langkah kuda atau mentri. Dan apabila hal itu terjadi, maka rusaklah tata kelola dan keseimbangan dalam permainan itu sendiri.

Allah SWT menciptakan alam semesta dengan sangat proporsional, manusia diciptakan untuk menjadi khilafah di muka bumi serta mahluk hidup lain di dalamnya berjalan dalam relnya masing-masing supaya tercipta keseimbangan di alam raya. Allah tidak menyukai mahluk hidup atau manusia yang melampaui batas akan dirinya sebagai mahluk ciptaan Allah. Bahkan dalam Surat Al-Maidah ayat 87 Allah Berfirman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.5:87).

“Buta Batas” dipilih menjadi tema dalam sinau Maiyah Dusun Ambengan bulan November. Diambilnya tema itu bertujuan untuk mengingatkan kesadaran akan banyaknya kelakuan dan tingkah polah serta lelaku manusia pada jaman sekarang yang sudah melampaui batas akan kodratnya. Banyak yang lupa akan tugas yang diembankan oleh Allah di muka bumi ini.

Seperti yang kita ketahui, manusia sejatinya adalah mahluk sosial, dimana manusia tidak bisa hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan orang lain. Guyub rukun hidup berdampingan menjadi satu ciri bahwa manusia itu mahluk sosial. Namun yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat sering bertolak belakang. Dikarenakan sebuah ambisi dan keinginan yang kuat dari manusia itu sendiri, sehingga praktik-praktik keserakahan disadari ataupun tidak, telah mengoyak sekat-sekat dan batasan-batasan manusia sebagai mahluk sosial.

Ayat tersebut di atas sudah sangat jelas bahwa manusia diamanahkan untuk menjalani semua sesuai dengan kodratnya, tidak menjelekkan yang baik dan tidak mengganggap baik untuk yang jelek, serta tidak berkelakuan melampaui batas terhadap semua mahluk hidup yang ada. Dalam hal kehidupan itu, sudah selayaknya kita melestarikan dan menjaga peraturan dan norma yang sudah tertata di masyarakat, baik tertulis maupun tidak tertulis.

Tiap manusia yang merdeka selalu dibatasi oleh kemerdekaan manusia lainnya. manusia memiliki suatu hal yang tidak boleh diganggu oleh lainnya. Untuk mencapai sebuah keseimbangan dalam bersosial masyarakat, saling membantu sangat diperlukan namun bukan berarti harus ikut campur urusan orang lain. Menjadi bagian masyarakat dengan tidak mengusik hidup orang lain, tidak melanggar batasan-batasan yang ada merupakan refleksi kehidupan yang sebenarnya.

Hidup di dalam suatu masyarakat memang saling terikat satu dengan yang lainnya, tetapi tetap menghargai jarak yang ada adalah hal sangat penting demi keseimbangan kehidupan alam raya dimana manusia ditugasi sebagai khilafah dan merupakan representasi dari tuhan itu sendiri. Manusia merupakan puzzle yang sangat penting bagi keberlangsungan dan kaseimbangan kehidupan.

Belajar tentang batas adalah belajar menjadi manusia yang merdeka. Agar mengerti fitrah mengapa manusia diciptakan dan apa tugasnya di muka bumi. Bukankah sudah ada contoh nyata tentang ketidak-merdekaan seorang manusia. Keserakahan dari hidup Firaun, Qarun, Kaum Nabi Syuaib, Nabi Luth, Nabi Nuh. Tidakkah kita belajar sejarah.

Tentang itu, Cak Nun pernah menulis dalam tajuknya : “Setiap warga Negeri Maiyah bertanggung jawab terhadap perjanjiannya kepada Allah sebelum lahir untuk hanya menyembah Allah, dalam pengertian meletakkan Allah sebagai pancer segala pertimbangan dan perhitungan dalam menjalankan hidupnya.”

Mari melingkar, sinau dan bergembira bersama Maiyah Dusun Ambengan di Rumah Hati Lampung, Dusun IV Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur. Pada Rabu, 21 November 2018, Jam 19.30 WIB. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *