BLEDUK

Tuntutan akan kehidupan yang lebih baik di jaman modern seperti sekarang ini telah melahirkan kompetisi-kompetisi yang merusak tatanan sosial kemasyarakatan dan alam sekitar. Dimana orang saling unggul mengungguli, saling sikut dan saling jegal satu sama lain untuk meraih predikat yang terbaik di antara lainnya dengan mengesampingkan dampak yang akan ditimbulkan nantinya.

Berdampak bagus apabila kompetisi dilakukan sesuai dengan norma yang telah ada, namun yang menjadi persoalan dan fenomena sekarang ini, kompetisi yang dilakukan telah menggeser dan membredel nilai-nilai luhur sosial masyarakat yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita dahulu. Dengan mengatasnamakan eksistensi diri, segala macam cara ditempuh manusia untuk memenuhi hasrat ingin dikenal, disebut, dibombong dan dipandang lebih oleh yang lainnya sampai-sampai secara tidak sadar mereka telah merendahkan diri sendiri supaya bisa tercapai hasrat yang diinginkan.

Eksploitasi besar-besaran terhadap tanah, air, udara mengakibatkan kerusakan yang sedemikian parah sebagai akibat hasrat manusia yang ingin menguasai dunia. Diperlukan pemikiran dan hati yang jembar untuk menyikapinya. Menyadari peran manusia sebagai khalifah di muka bumi dengan menyebarkan kebaikan ke alam semesta beserta isinya.

Sebagai perenungan, kita bisa belajar dari Bleduk (debu). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, debu berarti serbuk halus dari tanah, abu dan sebagainya. Kebanyakan manusia benci dengan adanya debu. Namun di situlah letak kebaikannya. Debu yang menempel pada tempat atau benda-benda, bukan karena keinginannya akan tetapi adalah sebuah takdir yang dibawa oleh debu sehingga menempel pada tempat atau benda tersebut.

Bleduk (debu), apabila dikaitkan dengan tingkah laku manusia memiliki makna yang sangat dalam. Bleduk yang juga makhluk hidup seperti halnya tanah karena ia bagian dari tanah dengan partikel yang sangat halus. Sebuah lambang kerendah hatian manusia terletak di sini. Sejenis dengan tanah, bebatuan, tetapi debu adalah puing-puing dari mereka yang selalu tak pernah dihargai manusia.

Kebanyakan manusia membenci debu karena telah dianggap membuat kotor serta mengakibatkan berbagai macam penyakit. Debu adalah makhluk yang lembut dan ringan tangan. Debu selalu pasrah dibawa ke mana pun oleh angin, selalu mengalah jika ada manusia atau makhluk lain yang melewatinya, menghindar dan menghambur hormat dengan menempel di mana debu bisa singgah.

Debu itu seperti manusia dengan kerendahan hatinya, yang tunduk dan hormat dengan siapa saja dan tak mengenal miskin ataupun kaya. Lambang dari sifat halus dan kelembutan hati manusia, mendengarkan ketika dinasihati dan selalu mengalah ketika ada orang yang angkuh padanya.
jadilah manusia yang berserah diri sepenuhnya kepada tuhan sesuai takdir yang ditentukan ditambah dengan sifat penolong, lembut hati, rendah hati kepada siapapun, entah itu manusia ataupun makhluk lainnya yang merupakan perwujudan dari tugas kita manusia sebagai khalifah dimuka bumi.

Mari melingkar bersama di majelis Maiyah Dusun Ambengan, Sabtu, 23 Juni 2018 Jam 19.30 WIB di Rumah Hati Lampung, Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur
#MAJun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *