50:50 (TAWAZUN)

FIFTY-FIFTY, seket-seket atau 50-50 ini bukan seperti kisah drama Norwegia yang disutradarai oleh Oddvar Bull Tuhus atau film 50/50 yang terinspirasi dari kisah nyata tentang anak muda yang berjuang melawan tumor di tulang belakangnya.

Limapuluh-limapuluh yang jadi tema Maiyah Dusun Ambengan ini, diambil dari pemahaman orang desa. Seket-seket, merupakan keseimbangan untuk sadar usia. Dimana makna perhitungan setelah empatpuluh sembilan dalam bahasa Jawa, bukan limapuluh, melainkan seket. Singkatan dari seneng ketu. Yang artinya, senang mengenakan tutup kepala. Peci, udheng, kupluk dan segala yang mampu membungkus kulit kepala. Sebagai adab kesopanan dan kepatutan. Tudung kepala itu, bagi orang berusia 50 tahun pada waktu tertentu, berguna untuk menutupi uban.

Dimensi warga yang bermukim di perdesaan, sudah memiliki defenisi tersendiri tentang apa itu fifty-fifty. Yakni, keseimbangan dan pemerataan pada semua lini untuk menegaskan keadilan. Adil pada proses kalkulasi pembagian keuntungan misalnya, lebih dikenal warga desa dengan ucapan, seket-seket atau 50-50.

Jika didedah dalam kajian keislaman, menemukan korelasi pada kata “tawazun”.

Allah SWT menciptakan kehidupan ini penuh dengan keseimbangan. Bahkan, dalam majelis masyarakat maiyah, seringkali disebut Emha Ainun Nadjib sebagai kemampuan menciptakan keseimbangan, baik dari sisi materi kajian, proses tadabur serta transfer pemahaman Dzat Maiyah itu. Sehingga, ada kesadaran, ketenangan, kesabaran, dan keindahan meski berjam-jam duduk sebagai pendengar.

Tawazun dalam proses tubuh secara fitrah itu sendiri, butuh dan perlu keseimbangan untuk mencapai derajat sehat secara fisik, sampai pada level takwa. Secara batin, syarat orang bertakwa itu juga butuh keseimbangan antara ibadah mengejar ukhrowi dan pembagian waktu untuk menjalankan kehidupan duniawi. Termasuk menjalankan perintah-perintah serta menjauhi larangan-larangan Allah.

Secara fisik ketika kita mengerjakan sesuatu berlebihan, akan menganggu kesehatan. Bahkan, pada proses ibadah ketika berlebihan, diluar syarat dan ketentuan, dapat menyebabkan terperosok pada ketidakseimbangan hidup sampai terkategori “menyiksa diri”.

Rosulullah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri menganjurkan agar berbuka bagi yang puasa, qiyamul lail tetapi juga tidur, dan sebagainya.

Tubuh manusia, dalam terminologi Islam, diciptakan Allah dengan keseimbangan antara ruh, jasmani dan akal. Islam mengajarkan, semuanya berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan keseimbangan tersebut dapat dilihat pada Al Quran surah Ar Rahmaan ayat 7-9. “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”

Ketiga potensi yang dimiliki manusia tersebut (akal, jasad dan ruh) memerlukan makanannya masing-masing. Pada jasadi Rosulullah Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya mumin yang kuat itu lebih disukai Allah daripada mumin yang lemah.“

Secara jasad, kita memerlukan makanan yang dikonsumsi juga butuh kesimbangan, agar berkah dan menyehatkan. Syaratnya, yang halal dan thoyib.

Akal, juga butuh asupan yang mampu memfungsikan radar pembeda antara manusia dengan hewan, agar menjadi akhsanu takwim dan tidak menjadi asfala safilin. Makanan akal adalah ilmu.

Sementara di sisi ruh, disebut juga hati atau kalbu, Allah memerintahkan. Alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” Firman Allah dalam surah Ar Radu ayat 28 itu merupakan salah satu makanan ruhani manusia.

Pemasangan poster Maiyah Dusun Ambengan yang bertema 50:50 (Tawazun) di perempatan Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur.

Keseimbangan jasad, akal dan batin itulah yang mampu membuat manusia sehat, kuat beribadah sekaligus hidup dalam ketentraman.

Berbicara tentang konsep seimbang, tawazun tentang alam semesta juga, Al Quran surah Al Mulk ayat 3 juga menjelaskan; “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Keseimbangan dalam kosakata paling sederhana di tengah masyarakat desa, seket-seket, keadilan ekonomi dan tawazun untuk mencapai sekaligus menemukan, kenapa orang-orang desa itu meski terlihat apa adanya namun hidup penuh ketentraman? Pertanyaan inilah yang akan kita dedah. Kita perbincangkan untuk benar-benar menemukan intisari dari apa itu tawazun.

Majelis Dusun Ambengan, bahkan berusaha semaksimal mungkin membuat format lingkaran, duduk lesehan untuk sinau dan bergembira bersama secara seimbang. Ada dedah tema, ada group musik Jamus Kalimasada, sekaligus udar gagasan dari berbagai sumber. Tentu saja termasuk sumbang saran jamaah tentang apa itu tawazun atau keseimbangan hidup.

Mari melingkar bersama di majelis Maiyah Dusun Ambengan, Sabtu, 13 Mei 2017 malam Jam 19.30 di Rumah Hati Lampung, Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur. (*)  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *