KAMARDIKAN

Memasuki bulan agustus, biasanya masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan selalu antusias menyambut dan memperingati satu hari bersejarah, yaitu hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Mereka bersolek, mempercantik serta menghias rumah dan lingkungan sekitar dengan berbagai macam bentuk hiasan untuk menyambut hari kemerdekaan. Bahkan di masyarakat desa sendiri ada sebuah olok-olok bagi orang atau warga yang malas-malasan dalam menyambut kemerdekaan, “Tinggal memperingati saja malas, apalagi disuruh berjuang.”

Gotong royong dan kerjasama sebagai salah satu ciri hubungan sosial masyarakat pedesaan begitu kentara dan terasa dalam menyambut hari yang dinanti. Mulai dari mencari dan membuat patok jalan dari bambu, mengecat dengan kapur gamping, memasang umbul-umbul sampai dengan menghias jalan dengan bendera kecil ataupun kantong-kantong plastik yang diikatkan disebuah tali yang kemudian dibentangkan sepanjang jalan dikerjakan dengan sambatan bersama-sama.

Hari kemerdekaan mempunyai tempat spesial di hati mereka, mereka begitu mengahayati dan menghargai pengorbanan dan jasa para pahlawan dahulu yang rela berkorban dengan nyawa untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Kamardikan atau kemerdekaan berasal dari bahasa sanskerta mardika, yang berarti pandai, terhormat, bijaksana dan bebas atau dalam arti lain sebuah keluasan bagi diri pribadi untuk terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Maka dari itu dalam kajian Maiyah Dusun Ambengan edisi 36 yang sekaligus ulang tahun Ambengan yang ke 3 ini mengambil tema “Kamardikan” untuk kita dedah bersama.

Makna merdeka itu bisa menjadi sangat rumit dan njlimet di tengah kehidupan masyarakat modern. Di era globalisasi dan arus informasi yang begitu liar menjejali seperti sekarang dimana tuntutan akan kehidupan yang lebih baik telah melunturkan nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana tujuan awal manusia diciptakan, yaitu menyebarkan kebaikan. Tidak sadar bahwasannya mereka sedang terkungkung dan terjajah dalam pusaran kontestasi kehidupan yang mereka ciptakan sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dengan segala tipu dayanya yang menjajah dan merasuki setiap celah lini kehidupan manusia, masyarakat pedesaan dengan sikap dan sifat serta karakteristik desanya, memaknai merdeka bisa menjadi sangat simpel. Mardika menjalani kehidupan dengan kewajaran, berinteraksi dengan sesama tanpa ada paksaan dan tekanan dalam derasnya arus globalisasi yang menyerang segala sendi kehidupan.

Merdeka menjadi diri sendiri dengan sikap nrimo, mensyukuri apa yang dimiliki dengan tetap melestarikan tradisi dan kebiasaan dalam struktur dan tatanan sosial kemasyarakatan desa yang guyub rukun. Mari duduk melingkar, sinau dan bergembira dalam kajian bulanan Maiyah Dusun Ambengan, Sabtu 18 Agustus 2018, jam 19.00 WIB di Rumah Hati Lampung.

#MAAgustus
#3ThnMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *