Sa(R)wo Kecik

Indonesia negeri gemah ripah loh jinawi, bak secuil tanah surga, tongkat kayu dan batu-pun jadi tanaman, seperti pitutur koesplus dari salah satu lirik lagu legendarisnya. Segala macam varietas tanam-tanaman tumbuh subur di hamparan zamrud khatulistiwa ini. Mulai dari varietas umbi-umbian, bermacam tumbuhan dedaunan, kacang-kacangan, aneka buah-buahan, hingga segala rupa tanaman yang menjadi sumber bahan makan pokok penduduknya.

Sedang pada konsep filsafat Jawa, setiap makhluk hidup, baik tanaman, hewan, maupun benda yang ada di sekitar pekarangan rumah maka akan mempunyai makna filosofis tersendiri.

Dalam aneka ragam tanaman buah, buah mangga mempunyai biji yang dinamai pelok, adalagi buah nangka yang mana bijinya disebut dengan beton, asam jawa pun bijinya khas dengan dinamai klungsu. Dan buah familiar berikutnya ialah sawo, yang mengandung banyak kemanfaatan, mulai dari buah hingga batang pohonnya.

Buah sawo muda seringkali diramukan sebagai obat diare yang mujarab, bijinya yang berbentuk pipih, lonjong, padat, mengkilap dinamai _kecik_. Varietas sawo yang mulai langka ini, sering disebut sawo kecik. Sawo Kecik (Manilkara kauki) sering disebut juga Sawo Jawa. Sedangkan dalam bahasa Inggris, lebih dikenal dengan Caqui dan Manilkara.

Di beberapa negara lain disebut Khirni (India), dan Lámút Sida atau Lámút Thai (Thailand) [Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia]. Sawo Kecik yang menurut filosofi jawa seringkali diidentikkan dengan ‘sarwo becik’ yang bermakna ‘serba baik’. Pohon sawo kecik ini salah satu pohon yang selalu ada dan ditanam di hampir semua bangunan milik Kraton di Jawa. Di Yogyakarta pohon sawo kecik kerap dijadikan tanaman pertanda, bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem kraton. [Dilansir : mesjidgedhe.or.id]

Sarwo Becik dalam terjemah Indonesia ialah Serba baik, memiliki simbol serta harapan dan bahan renungan bagi setiap diri manusia untuk senantiasa berfikir, bersikap, dan mengambil tindakan apa-apa saja yang dampaknya ialah kebaikan bagi banyak orang. Bermaslahat bagi manusia yang lainnya.

Dengan merujuk pada sawo kecik yang dominan akan kemanfaatannya, kita sebagaimana khalifah di muka bumi, diingatkan untuk selalu berjuang terus dan tak terhingga rentang waktunya dalam memosisikan dan memerankan diri berlaku rahmatan lil alamin. Menjadi perpanjangan tangan Rahmat Allah bagi semesta alam, meliputi seluruh makhluk ciptaan-Nya tanpa terkecuali.

Karena sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lain. Dan kemanfaatan itupun dibuahi dengan realitas laku kebaikan-kebaikan. Karena sesuai Firman-Nya, dalam QS Maryam [19] : 95, kita akan dimintai pertanggung jawaban sendiri-sendiri tanpa bisa terwakilkan, tidak ada yang dapat kita andalkan saat akhir hayat nanti kecuali ialah kebaikan-kebaikan yang telah kita semai, tanam dan rawat saat berkebun dan berkehidupan di dunia ini.

‎وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَرْدًا
“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” QS Maryam [19] : 95

Berpedoman dari ayat tersebut, selayaknya jelas bahwa modal utama kita nanti saat menghadap Allah Ta’ala, saat berperjalanan innalilahi wa inna ilaihi roji’un, ialah amal-amal kebaikan yang terkonfirmasi dan diridhoi oleh Allah SWT.

Karena bekal yang kita bawa di akhirat nanti bukanlah seberapa banyak transaksi jual beli kita dalam materialisme duniawi, bukan pula seberapa tinggi jabatan serta kekuasaan kita saat di dunia. Namun yang kelak akan membawa kita kepada sang Pencipta ialah segala nilai-nilai kebaikan yang seyogyanya dicatat oleh malaikat utusan Allah. Namun karena kilaunya dunia, kita seringkali terperdaya oleh hiasan-hiasan keindahan dunia, yang menggeser fokus lensa pandang kita akan kehidupan fana ini. Bahwa sejatinya kehidupan yang kekal dan abadi ialah di akhirat, bukan di dunia yang dibalut dengan kelap-kelip kesementaraan.

Bahkan yang tak dapat dielakkan lagi, sebagian besar kita justru abai terhadap urusan nilai-nilai kebaikan. Lebih banyak yang tertarik dan bersibuk diri pada perkara transaksi pasar, dengan getol melakukan perniagaan atas ujung tombak meraih laba sebanyak mungkin, di lain sisi tak sedikit pula yang serta merta melakukan segala macam cara demi untuk mengejar dan menduduki kursi kekuasaan yang tak akan pernah ada habisnya. Baik kekuasaan dalam skala mini, menengah, bahkan hingga kekuasaan skala besar sekalipun.

Berbekal filosofis pohon dan buah sawo kecik tersebut, ada beberapa poin pendamping yang dapat kita jadikan bahan refleksi, atau mungkin juga kita bawa ke tahap diskusi kolektif.

Buah sawo bisa saja ditempatkan pada suatu ruang, waktu dan kondisi transaksional jual beli komoditas buah di pasar, dengan macam-macam segmen penjual dan pembeli, serta menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dalam siklus perjual belian itu pula, ada kondisi dimana yang berkuasa atas lalu lintas supply-nya dikendalikan penuh oleh para bakul tengkulak buah.

Di sanalah sawo kecik mengalami suatu transformasi nilai-nilai sarwo becik-nya. Dari hanya sekedar buah sawo di pohon, berhijrah ke tangan penjual, hingga sampai pada berbagai lapisan pedagang hingga konsumen. Nilai yang tidak akan hilang dari sawo kecik adalah ia tidak akan mengingkari kodratnya sebagai buah sawo, ia akan selalu mengalirkan dan memberikan kandungan zat buah yang serba baik, yang akan bermanfaat bagi yang mengkonsumsinya, bagi setiap orang yang bersentuhan dengannya.

Beberapa ringkasan di atas tentang sawo kecik — sarwo becik ialah hanya berposisi sebagai gerbang pembuka ilmu. Masih sangat besar potensi pengembangan nilai-nilai keilmuan yang mungkin dapat diambil dari filosofi sawo kecik.

Untuk lebih dalamnya, dengan segala keikhlasan juga kegembiraan hati, Majelis Maiyah Dusun Ambengan edisi ke 49 ini, membuka ruang segar untuk gelaran diskusi kita bersama. Untuk sinau bareng dan bergembira bersama sekaligus memetik nilai-nilai luhur sawo kecik serta mengumpulkannya ke dalam keranjang penampungan di hati dan pikiran kita. Agar dapat ditransformasikan menjadi bentuk nyata sarwo becik dalam wujud kebaikan-kebaikan fiddun yaa wal akhiroh dalam segala kondisi apapun.

*Maiyah Dusun Ambengan edisi ke-49, di Rumah Hati Lampung, Dusun IV Margototo, Metro Kibang – Lampung Timur.#MASept*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *